Cerpen: “Kamu Harusnya Bisa Seperti Dikan Dong Sayang. (Lip-sync)”

April 7th, 2009 by indonesiangrunger

Photobucket

….Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong Sayang…??!!!!!! Dia itu cowok yang penyabar, dan pasti selalu Sayang sama kekasihnya,,,,….

Itu yang selalu diucapkan Irene pacarku, kalimat favoritnya yang keluar ketika Ia sedang kesal padaku atau ketika kita sedang berantem. Maka Ia akan segera membandingkan Aku dengan Vokalis salah satu band (katanya) papan atas itu. Dikan, Dikan, Dikan. Ah mungkin sebenarnya memang Dikan itulah yang pantas disebut sebagai pacar Irene dan bukan Aku. Karena menurutku pemujaan Irene kepadanya sudah tergolong kompulsif, sangat berlebihan serta terobsesi. Ketika Kami berdua nonton di Bioskop, maka Irene akan berujar: “Ah kira-kira si Dikan itu suka nonton film apa ya Say…” pas sedang makan es krim berdua: “heeemmm….enak banget sich es krimnya, manis, semanis suara Dikan…. Dan bahkan yang paling parah dan bisa kucap sebagai benar-benar gila ketika Irene dengan bangganya menyejajarkan Dikan itu sebagai Vokalis band terbaik berbarengan dengan Paul Mccartney atau Iwan Fals, walau sebenarnya Irene tahu bahwa sangat tidak mungkin Dikan itu bisa dibandingkan dengan Sir Paul atau Bang Iwan, tapi tetap saja Ia ngotot padaku kalau mereka bertiga berkemampuan sama. oh Tuhanku setan apakah gerangan yang menyesatkan pacarku ini….???

…Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong Sayang…??!!!!! Suaranya tuh bagus banget kalau lagi nyanyi di Tv. Nah sementara kamu kalau nyanyi enggak jelas gitu….

Opini Irene ketika mendengar Aku menyanyi. Padahal Aku sudah menyanyi sepenuh hati namun Irene tetap membanding-bandingkan Aku dengan Dikan-nya itu Cuma karena Aku nyanyi lagu sosial (yang katanya ga jelas) sementara Dikan nyanyi lagu selingkuh. Aku memang menjadi vokalis sebuah band alternative yang kurang dikenal namanya dan bukan juga band papan atas yang lagunya bercerita tentang keadaan sosial politik negeri ini yang secara otomatis dicap sebagai band ‘enggak jelas’ oleh orang-orang pecinta ‘lagu selingkuh’ seperti pacarku itu. Aku dan Irene pacaran sejak Aku dan Dia masih kuliah semester 3 hingga Akhirnya Aku sekarang bekerja di salah satu stasiun tv swasta. Gaya pacaran kami biasa saja seperti kebanyakan orang, kami jalan-jalan ke mall di malam minggu, menyempatkan menonton film terbaru berdua, dll. Entah apa yang membuatku terpesona dengan Irene dulu. Yang jelas selama itulah Aku yakin bahwa Aku memang Sayang Dia, terlepas dari masalah Ia tergila-gila dengan vokalis band papan atas itu tentunya. Dulu awal-awal pacaran kami Ia sudah mulai menampakkan tanda-tanda obsesinya akan Dikan. Cuma satu kata itu yang diucapkannya bahkan mungkin melebihi ucapan namaku dari mulutnya. Seolah 24 jam hidupnya harus dipakai untuk mengucapkan nama Dikan, Dikan, Dikan. Dan semakin kesini kegilaan itu mulai terasa menganggu, sebab Irene mulai berani menyuruh Aku untuk mengganti nama Saja menjadi Dikan agar ketika Ia kangen setengah mati Ia bisa melampiaskannya padaku. Beberapa tahun setelah Aku bekerja di stasiun tv itu Akhirnya aku menikahi Irene. Kami menikah seperti pasangan biasa juga, Cuma satu yang tak biasa: inilah pertama kalinya pernikahan adat jawa dilangsungkan bukan dengan musik gamelan sebagai pengiring. Tapi seperangkat gamelan harus mengalah tersingkir tergantikan oleh lagu selingkuh yang diputar di VCD bajakan.

Sejak dulu kala Aku sering mendengar istilah ini, istilah yang selalu dikatakan kepada para calon-calon pengantin baru untuk memberikan greget, atau diucapkan kepada yang belum nikah-nikah biar pengen buru-buru nikah. Orang-orang sering bilang: “Beuh, malam pertama tuh bener-bener nikmat, serasa jadi raja dan ratu dalam semalam deh….hahaha mungkin karena terdoktrinasi istilah itu akupun sangat menantikan malam pertama ini. Dan ketika saatnya tiba, Irene masuk kamar pengantin, Aku sudah membayangkan Akhirnya bisa bercinta denganmu Sayang secara resmi dan enggak berzina. Kami mulai foreplay, berciuman dengan panas, mulai melepas…(maaf demi keamanan agar tak terdamprat UU Pornografi & Pornoaksi tulisan adegan bercinta terpaksa disensor) oh Ireneeeeeee……..Aku memanggil-manggil namanya dengan mesra….oooooohhhhh Dikaaaannnnnn… nama itu yang didesahkan Irene, bahkan dimalam pertama kami. Mood bercintaku turun drastis demi mendengarnya. “Sayang cukup sudah semua kegilaan ini, Kamu terus menerus menyebut nama itu dari semenjak Kita pacaran dulu bahkan hingga kini dimalam pertama kita. Dikan, Dikan, Dikan. Kamu aja ga kenal Sama Dia Ren, Kamu Cuma menonton Ia menyanyi untuk bandnya di televisi, kamu belum pernah ketemu Dikan itu. Bagaimana bisa Kamu bilang Ia begitu baik, sabar, suaranya bagus. Kamu tahu enggak sih kalau suara bagusnya ketika  sedang bernyanyi di teve itu palsu, namanya
lip-sync
, Ia hanya pura-pura nyanyi diiringi suara musik. Lagian apa sih bagusnya lagu Dikan ini? Lagunya Cuma bercerita tentang selingkuh dan selingkuh, apa jangan-jangan kamu memang suka dengan lagu-lagu selingkuh itu karena kamu pengen selingkuh dengan si Dikan ini?

…Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong Sayang…???!!!!! Ia membela hak-hak para manusia yang sudah memantapkan dirinya untuk selingkuh dari pasangan, Ia adalah pemimpin kelompok minoritas yang memutuskan untuk menjadikan selingkuh hal yang wajar dan memasyarakat, Dikan itu Leader band yang hebat, Ia hendak ‘memasyarakatkan Selingkuh dan Menselingkuhkan Masyarakat’. Kamu tadi Tanya apa? Aku hendak Selingkuh Sama Si Dikan? Yah kalau emang Dikan nya mau Sama Aku kenapa tidak? Kamu enggak keberatan kan Sayang kalau Aku selingkuh sama Dikan…????

Cukup sudah, kegilaan ini harus diakhiri sampai disini, hati istriku sudah direbut oleh Dikan itu, seseorang yang bahkan tak kukenal, Irene juga tak mengenalnya secara langsung. Diam diam Aku merencanakan sebuah balas dendam. Akan kuruntuhkan karier bermusik Dikan. Hari ini Ia akan tampil di acara musik stasiun tv tempatku bekerja. Band nya didaulat untuk Lip-sync ketika tampil live secara nasional dan itulah saatnya, Aku di perusahaan ini bertugas mengatur bebunyian-bebunyian yang muncul di speaker tv yang kalian setel itu. Intinya Akulah yang bertanggung jawab mengatur suara. Aku akan merusak musik yang diputar ketika Dikan tampil sehingga rencana Lip-sync nya berantakan. Hahahahaha, Aku menyeringai puas, sebentar lagi wahai istriku, Dikan itu akan kuhancurkan, dan kau akan tahu kepalsuannya dalam bernyanyi. Akan kubuat Ia terkencing-kencing malu dihadapan tv nasional persis seperti Ashlee Simpson ketika Lip-sync di Saturday Night Live. Aku ingat kejadian itu, karir Ashlee langsung Anjlok pasca tragedy Lip-sync. Aku akan membuat hal yang sama pada Dikan.

New message received:
Tuesday March 20, 2009
From: Irene +628562129087
To: My Number

….Sayang kamu sedang kerja kan? Kerja yang bener yah, soalnya sekarang kan Dikan mau nyanyi, Aku lagi nonton Dirumah nih…Love You.

Sms dari Irene, menandakan akan dimulainya rencanaku. Tak lama kemudian presenter acara musik bicara mempersilahkan …band untuk tampil:

..”Ok sahabat Awesome dimanapun berada, ini band yang sudah ditunggu-tunggu penampilannya dari tadi, kita tampilkan …Band. Cekidot

Kupencet tombol play dan mulai mengalunlah lagu bertema selingkuh itu, sementara dipanggung Sang Dikan dan band nya mulai pura-pura bernyanyi dan bermain musik sepenuh hati. Aku men cemooh mereka dalam hati “huh segala penampilan palsu begitu…” setelah beberapa lama Aku mulai lancarkan seranganku, kupencet tombol play dan pause berulang-ulang hingga hasilnya lagu selingkuh yang tadinya terdengar berganti jadi bunyi tededeteteede teeeeeettt treeeettttt jkfhuifhiu*&^%%$#%hcv. Semua orang jadi terkaget-kaget, semua crew, host acara, penonton di studio, si Dikan itu apalagi, Ia jadi gelagapan dan salah tingkah. Hahahahaha mampus kau, sebentar lagi Kau akan dihujat habis-habisan oleh kritikus musik, seluruh penggemarmu akan memaki-makimu, dan karir bermusikmu akan runtuh. Aku sudah tersenyum tanda puas akan keberhasilan balas dendamku. Namun beberapa detik kemudian mendekatlah produser kesampingku “Apa yang Kamu lakukan goblok?” crew acara yang panik segera mengutus presenter untuk naik panggung, presenter itu kemudian berujar ada sedikit kesalahan teknis dan mengajak kita semua menonton komersial break berikut ini. Sementara manajer …band mulai marah-marah bertanya apa yang terjadi…

…Sayang, Aku tahu kita baru menikah beberapa minggu, Aku tahu Kamu sayang Aku, Aku juga Sayang Kamu. Tapi perbuatanmu merusak Show Dikan tak bisa kuampuni. Kamu harusnya bisa seperti Dikan Dong Sayang….??!!!! Ia bukan pendendam dan Ia pria yang pemaaf….

Kata-kata itu keluar dari mulut Irene ketika datang di Sidang perceraian kami. Entah kenapa semua jadi begini, Aku yang Cuma mau melakukan sesuatu untuk merebut kembali hati istriku dari seorang vokalis band selingkuh. Akhirnya malah kehilangan segalanya. Setelah tragedy Lip-sync yang kurencanakan buat Dikan, Aku langsung dipecat dari Stasiun tv tempatku bekerja, gilanya lagi ternyata scenario Dikan bakal dihujat kayak Ashlee Simpson itu tak terjadi, para penonton tetap bersorak dan mengelukan Dikan, bahkan RBT band itu makin laris setelah kejadian Lip-sync. Tak ada kritikus musik yang mencela dan menghujat Lip-sync mereka karena para kritikus itupun tengah sibuk berselingkuh dengan kehidupan mereka sendiri, namun yang paling parah adalah ketika Irene memutuskan mengajakku bercerai tepat beberapa minggu setelah kami menikah, Ia akhirnya memang memilih berselingkuh dengan Dikan….lalu salah siapa ini semua harus terjadi? Salahku yang begitu dendam kepada vokalis band papan atas yang tak kukenal itu karena namanya yang selalu disebut-sebut Irene? Atau salah Dikan yang menyanyikan lagu selingkuh ditengah masyarakat yang tengah krisis produktivitas? Oh mungkin salah Irene yang tergila-gila padanya, Salah penonton Show yang tetap bertepuk tangan dan bersorak riang meski artis yang sedang ditontonnya itu Lip-sync, salah siapa…???? Pastinya Irene tetap menyalahkanku atas semua yang terjadi. Ok Aku kehilangan pekerjaan, Aku kehilangan istri, namun setidaknya Aku tak kehilangan kehormatanku sebagai penyanyi dengan cara menyanyi benar-benar untuk bandku ketika kami sedang manggung.

New message received:
Tuesday April 7, 2009
From: Adhi Blekok +62810897666
To: My Number

Sob, Kta dpt kesempatan bgs nih bwt manggung di tv besok pagi, kta didaulat jd band pembuka utk …band, lumayan nib bwt nyari jln ke industri musik, tp kta cma Miking doang bro, Lip-sync gt. Ni soalna dah perintah produser, gpp kan? bls

New message received:
Friday April 8, 2009
From: Irene +628562129087
To: My Number

Hi, apa kabar? Lama enggak kasih kabar deh. Gimana kehidupan kamu sekarang? Baik saja kan? Oh ya Aku denger kabar band kamu bakal manggung ya nanti jam 9? Jadi pembuka utk …band. Selamat ya, sukses deh buat kamu. Oh ya Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong ya…Kamu harus tiru dan contoh Dia, Dia itu bisa bernyanyi sepenuh hati dan jiwa raganya serta amat mendalaminya…sukses deh shownya.

TAMAT

Aris Setyawan
Bekasi 07 April 2009

Lip-sync: kepanjangan dari “Lip Syncronize” adalah berpura-pura bernyanyi atau memainkan alat musik diatas panggung seraya diringi musik. Lip-sync sering dilakukan musisi dengan alasan kurang bagusnya suara asli penyanyi bila harus tampil live, atau alasan kondisi teknis dimana melakukan Lip-sync lebih mudah dan praktis ketimbang harus menata set alat musik bagi musisi itu yang terkadang rumit dan membutuhkan persiapan panjang.

Kekuatan Sugesti

March 13th, 2009 by indonesiangrunger

Sugesti mempunyai kekuatan yang luar biasa, tak terbayangkan, bahkan bisa menggerakkan ribuan orang untuk melakukan suatu hal yang diluar nalar serta Absurd. Kita ambil saja contoh kasus Dukun cilik Ponari di Jombang Jawa Timur. Apa benar batu ajaibnya bisa menyembuhkan penyakit? Lalu kenapa ribuan orang percaya? Kalau batu Ponari tidak bisa menyembuhkan penyakit lalu kenapa beribu orang masih berduyun-duyun mengantri dirumahnya berhapa kesembuhan? Padahal secara medis tentu saja pengobatan ala Ponari ini sangat tidak masuk di akal. Sementara dari segi agama penyembuhan ini secara tidak langsung mulai mendekati Musyrik. Walau kebanyakan pasiennya ngaku tidak percaya kalau batu itu yang menyembuhkan mereka tapi Yang Diatas yang menyembuhkan, batu Ponari hanya perantara. Ah dalam hati kecil mereka pasti tetap percaya batu itulah Sang penyembuh. Sugesti tebakan yang bisa Saya katakan, Sugesti memberikan Kita perasaan bahwa (atau memanipulasi realita sebenarnya?) sakit yang kita rasakan hilang, seolah para pasien Ponari setelah meminum air celupan Batu Ponari benar-benar hilang sakitnya walau sesungguhnya (Kita Anggap Saja) batu itu tidak manjur mengobati penyakit. Lalu yang jadi pertanyaan lagi adalah: kalau Sugesti secara kebetulan merasa penyakitnya sembuh Cuma dirasakan satu dua orang sih wajar-wajar saja. Tapi dalam kasus Ponari ini yang ter-sugesti itu puluhan ribu orang, aneh rasanya Kita bayangkan bahwa beribu orang ini secara kebetulan merasa sembuh dan baik-baik saja setelah minum air yang tidak manjur. Apa mungkin beberapa dari mereka melihat orang lain sehat, lalu malu mengakui bahwa sebenarnya setelah minum air ponari mereka tetap sakit jadi mereka berbohong dan bilang Saya Sembuh?

Ada cerita tentang Sugesti dari luar negeri. Konon beberapa orang di Suatu  Hutan di daerah di Satu Negara (maaf Saya sendiri lupa baca dimana cerita ini, jadi ya lupa secara pasti setting dan kronologis cerita ini) beramai-ramai memakan Jamur yang sebenarnya tidak berbahaya. Tapi ada seseorang yang mengatakan bahwa Jamur itu beracun dan racunnya bisa membunuh dengan cepat. Beberapa Jam kemudian salah satu orang tersebut mengaku merasa pusing dan mual-mual, yang satu lagi bilang tangan dan kakinya terasa dingin dan kaku. Yang lain mulai bilang badannya terasa aneh. Padahal Jamur itu tidak beracun tak berbahaya. Sugesti membuat mereka beranggapan Jamur itu beracun, mereka ciptakan ilusi yang mereka citrakan sesuai keadaan ketika mereka keracunan.

Dulu Saya sangat benci rokok. Bagi Saya merokok hanya untuk orang yang kurang kerjaan dan kebingungan bagaimana cara mendistraksi waktu agar cepat berlalu. Tapi belakangan Saya sedang mencoba merokok, Saya ingin tahu apa Sih yang dirasakan orang ketika merokok. Kenapa beberapa yang sudah kecanduan Akut sampai melakukan apa Saja agar bisa menghisap Batang Nikotin itu. Efek apa yang ditimbulkannya. Saya mulai merokok ganti-ganti merk mulai dari merk Luar Negeri sampai Produksi lokal. Rasanya tidak enak bagi Saya, pahit, bikin batuk dll. Taoi lama kelamaan Saya menikmatinya entah kenapa. Apalagi ketika sedang stress atau pusing banyak masalah. Semua masalah itu terasa hilang ketika menghisap sebatang rokok. Akhirnya Saya tahu kini kenapa banyak orang tergila-gila pada rokok. Dengan merokok menimbulkan Sugesti bahwa sang perokok merasa sangat baik-baik saja dan bersemangat. Sugesti bahwa semua stress nya hilang setelah merokok. Bahkan Sugesti bahwa dengan merokok didepan umum Ia merasa sangat jantan dan keren (Jantan? Bukankan Merokok menimbulkan Impotensi?) Akhirnya Saya sekarang ya merokok tapi jarang-jarang. Beli Sebungkus untuk seminggu. Saya Cuma takut keterusan menganggap Rokok adalah penyelamat dari kesepian.

Kekuatan Sugesti ternyata sangat menakjubkan yah? Bisa membuat banyak orang melakukan tindakan-tindakan yang Absurd dan diluar nalar. Saya juga berharap Semoga tulisan ini membuat Sebuah Sugesti bagi Anda sehingga Anda semua beranggapan bahwa Penulis Artikel ini (Dalam Tanda Kutip “Saya”) adalah orang yang keren……

^_^

-Aris Setyawan-

Bekasi 07-03-2009

Cerita Tentang Homicide “Tha Nekrophone Dayz”

March 4th, 2009 by indonesiangrunger

Photobucket

WARNING: Cerita atau review ini sepenuhnya Subyektif sesuai dengan perasaan Saya yang saat menulis Cerita ini sedang tergila-gila mendengarkan Tha Nekrophone Dayz nya Homicide. Jadi buat yang enggak suka sama mereka, menganggap Homicide itu Komunis, Atheis, Agnostik, atau apalah. Lebih baik berhentilah membaca sampai disini. Karena cerita ini adalah sebuah tanda salut dan respect Saya untuk Group asal Bandung ini.

Yah, belakangan Saya tengah tergila-gila dengan group Hiphop asal Bandung ini. Sebuah Group Hiphop? Kenapa Saya bisa Suka dengan group hiphop ini, padahal dari Dulu Saya bersumpah Sangat enggak Suka dengan Aliran ini, Saya Anggap Hiphop itu hanya sebuah Aliran berengsek-berengsek yang kebanyakan duit lalu menghamburkannya dengan membeli bling-bling sebanyak mungkin, memodifikasi shockbreaker mobil hingga bisa melompat seraya hendak terbang, bernyanyi (atau hanya mengoceh…???) membacot cepat dengan lirik tentang gangster atau kehidupan Niggaz atau narkoba atau memble, atau So What Gitu Loh….??? Itulah Opini Saya tentang Hiphop Dulu. Saya Anggap hiphop Hanyalah musik untuk orang-orang yang kurang kerjaan atau kebanyakan duit dan hendak memvisualisasikan bahwa mereka berbeda dengan orang-orang lain yang miskin.

Tapi opini Saya tentang Hiphop berubah setelah tahu Homicide. Sebuah Anomali yang lebih Aneh dari musik yang mereka bawakan. Hiphop sejenis Public Enemy atau the Last Poet sebagai Influence mereka, Political Rap yang ngomongin politik secara Sadis. 8-Ball Cuma berani teriak-teriak Ngajak ngentot Kangen Band tapi lempar batu sembunyi tangan. The Law apalagi Cuma berani ngumpatin band-band se Indonesia tapi enggak berani Berkonfrontasi secara langsung. Tapi Homicide berbeda, mereka berani menuduh Sana sini tapi dengan kecerdasan, dan mereka berani menampakkan diri secara langsung. Lalu apa yang membuat Saya langsung Suka dengan group ini? Mereka bisa Saya bilang group Hiphop terbaik Negeri ini, mereka tidak bicara tentang memble, atau bling bling, atau So What Gitu loh, atau Ngentot, atau tipikal lirik-lirik band Hiphop Kacangan. Mereka lebih suka bicara neoliberalisme dan bahayanya untuk negeri ini, tentang kapitalisme busuk korporasi multinasional yang menjadikan Negara kita ini sebagai lubang senggama. Tentang bagaimana busuknya pemerintahan negeri, atau tentang para Fasis yang bertopeng Agama dan Konstitusi yang dengan seenaknya membacok leher orang. Mungkin tema yang mereka bawakan akan terlalu berat buat beberapa orang, tapi amat menyenangkan.

Homicide sebenarnya sudah lama berdiri, mereka adalah legenda hidup hiphop Indonesia, namun mereka sangat miskin rilisan. Dari awal Homicide berdiri sampai memutuskan bubar beberapa waktu lalu, Lagu-lagu mereka berserakan sebagai EP atau Single. Hingga Akhirnya seluruh serakan lagu-lagu itu dikumpulkan dalam sebuah Album (atau lebih tepatnya Kumpulan EP) ini yakni Tha Nekrophone Dayz. Dirilis tahun 2006 (dan Saya baru beli sekarang) sementara Album terakhir mereka sebelum Homicide memutuskan bubar “IllSurrekshun” baru dirilis kemarin. Saya menemukan Homicide dari MySpace mereka, setelah mendengarkan lagunya ternyata bagus banget, Akhirnya Saya putuskan memesan CD Tha NEkrophone Dayz mereka. Ketika CD itu Sampai Ia tiada henti Saya putar untuk mempelajari semua yang ada didalamnya. Tha NEkrophone Dayz berisi 18 Track termasuk Intro, dalam paket CDnya ada Booklet kecil dengan eksplanasi singkat sejarah berdirinya Homicide, gambar-gambar Kuburan. Lalu ada Lyrics Sheet yang super duper panjang (wajib baca Liriknya biar tahu apa sih yang mereka omongin di lagunya) beberapa Ekplanasi tentang lagu-lagu dalam Tha Nekrophone Dayz. “Boombox Monger” adalah memori Lama Ucok a.k.a Morgue Vanguard yang mengkisahkan ingatannya tentang Hiphop 70-an; “Puritan (Godblessed Fascists) lagu kontroversial yang berbicara tentang sekelompok fasis bertopengkan Agama dan Ideologi yang seenaknya menebas leher orang lain yang menganggap moral mereka paling baik lalu seenaknya menghilangkan Nyawa orang (kalian tahu maksudnya kan? Siapa kelompok ini); “Semiotika Rajatega” lagu sadis berupa tikaman untuk group Hiphop lain yang membenci Homicide; “Barisan Nisan” track sepanjang tujuh menit lebih yang berisi Sampling-an aneh serta Spoken Word dari Ucok, Ia tidak bernyanyi disini. Cuma berpidato lintas tema, berkarakter sangat kuat; “Senjakala Berhala” Track favorit Saya. Coba dengarkan ditengah malam kalau berani. Flow serta kecepatan nge-rap yang sangat luar biasa, membuat Saykoji tertinggal jauh dibelakang tak bisa mengikuti kecepatannya; “Belati Kalam Profan” Saya suka beatnya; “Rima Ababil” dengan cara nge-rap yang Radio Friendly sebenarnya track ini bisa diputar diradio, namun demi mendengar sampling Orasi pejuang Ham Almarhum Munir di awal lagu, sudah pasti Radio-Radio tak berani memutarnya; “Sajak Suara. Ucok membacakan Puisi Karya Widji Thukul, penyair era Orde Baru yang dihilangkan paksa pemerintah; “Nekropolis” lagu yang amat berisik, ditambah Teriakan Addy Gembel vokalis band Death Metal Forgotten.

Ah susah kalau hanya diterangkan dengan kata-kata, dengarkan Saja Tha Nekrophone Dayz. Pesan segera CD ini. Lihat cara pemesanannya dengan kirim imel ke Remains@nekrophone.com Saya juga sedang berpikir untuk membeli Album terakhir mereka IllSurrekshun.

Ada yang bilang Homicide adalah Atheis, Komunisme bentuk baru, Agnostik dan lain sebagainya. bagi Saya mereka yang bilang seperti itulah yang berpikiran picik, ber IQ rendah. Cuma bisa melihat permasalahan dari satu sudut kemungkinan saja tanpa tahu esensi sebenarnya. Ucok dan kawan kawan bukan Atheis, mereka hanya benci orang-orang yang mengaku Agamis tapi menerapkan Gaya hidup fasis dan suka membunuhi orang lain yang tak satu faham dengan mereka. Homicide bukan Komunis, mereka hanya benci dengan pemerintahan negeri ini yang semakin menumbalkan rakyatnya sendiri demi kelanggengan kedudukan. Homicide hanya memperingatkan kita tentang bagaimana sih keadaan sebenarnya negeri Kita tercinta ini, yang jadi bulan-bulanan Negara barat, jadi mangsa senjata utang dan kapitalisme. Kita diperingatkan apa sih Bahaya Neoliberalisme yang pelan-pelan tengah menjajah Kita. Jadi Homicide tak hanya omong besar tentang hal-hal hedonis enggak penting itu. Karenanya Saya putuskan bisa Suka dengan Hiphop jenis ini.

Last Word, Homicide memang sudah bubar. Sudah berganti jadi Karbala Bukan Fatamorgana. Lupakan kata orang tentang ideologi yang dianut Homicide. Coba dengarkan Saja lagu mereka untuk tahu apa sebenarnya Homicide itu.

-Aris Setyawan-

Bekasi, 06 Maret 2009

Cerpen: “MENGHITUNG HARI, MENGHITUNG BULAN”

January 11th, 2009 by indonesiangrunger

Asap dimana-mana, kegelapan, kelam, hitam, ini bukan akhir dunia. tapi selimut asap memeluk daerah ini. Aku dan kekasih hati megap-megap mengejar oksigen yang semakin langka. Asap dimana-mana, dimana tukang balon gas? Biar aku bisa pinjam tabung oksigennya untuk pertahankan jiwaku dan kekasih hatiku…

Akhir tahun ini agak sedikit berbeda dari tahun-tahun silam. Dulu aku selalu bahagia diakhir tahun. Selalu banyak hal yang bisa membuatku tersenyum di bulan-bulan menjelang pergantian masehi. Agustus yang penuh kegembiraan dan tawa ketika nonton panjat pinang di perayaan tujuh belasan dikampungku. Antara september sampai oktober yang penuh kekhusyukan karena datangnya bulan suci Ramadhan, dan disambung datangnya kemenangan di hari raya idul fitri. Sampai riuhnya terompet mengiringi pergantian tahun di bulan desember. Pokoknya di akhir tahun selalu ada momen yang bisa membahagiakan dan mampu menyihirku agar terus mengenangnya. Dan memang benar, efek magisnya nyaris mustahil dimusnahkan. Aku selalu mengenang masa-masa itu. Yang kadang menghilangkan rasa malu karena aku tahu-tahu menangis walau sedang di keramaian pasar. Yang membuat orang lain menyangka aku depresi berat plus gila sinting karena aku tertawa-tertiwi sendiri tanpa sebab. Masa dimana aku masih bersamanya. Tiara, perempuan nyaris tanpa cela. Seperti yang kutegaskan tadi, akhir tahun ini memang berbeda. Penghujung masehi yang kujumpa sekarang penuh luka dan kepedihan. Barah dalam jiwa yang sulit tersembuhkan. Kronologisnya juga masih segar dalam ingatan. Meski aku berusaha mengenyahkannya namun malah makin kokoh menancap dalam otak. Akhir tahun ini berbeda, tak sama.

Januari.

Aku tinggal di sebuah kota. Tak etis rasanya kalau aku menyebut nama kota itu. Yang jelas kota ini terletak di pulau yang terbelah garis kasat mata, yang pada akhirnya menyebabkan negeri ini dapat julukan zamrud khatulistiwa. Kehidupanku biasa saja, aku seorang pria normal; kerja di perusahaan swasta; umur kepala dua; fans berat Juventus walau mereka turun tahta ke serie B; amat benci penindasan; dan tidak suka sayur terong. Aku tinggal di sebuah daerah yang indah, itu menurutku. Karena orang selalu menilai keindahan dengan sudut pandang masing-masing. Ada yang menganggap keindahan itu adalah sesuatu yang sedap dipandang. Lantas apa yang dimaksud dengan yang sedap dipandang itu? Seorang pelukis akan mengatakan Monalisa itu indah karena ia memang mencintai seni lukis. Seorang Ibu menyatakan keindahan yang tak bisa tertandingi adalah saat buah hatinya melangkahkan kaki untuk pertama kalinya. Sementara seluruh kaum Adam menganggap betis itu indah. Dan kenapa pula aku jadi membicarakan betis. Daerahku dikelilingi alam yang mempesona tiap-tiap mata. Julukan yang paling membanggakan: daerah kami~sebenarnya pulau kami~adalah paru-paru dunia. karena luas hutan yang kami miliki. Keindahan-keindahan lain masih banyak, tapi takkan kuceritakan karena inti dari kisah ini bukannya tentang hutan yang penuh monyet. Melainkan tentang monyet yang tengah jatuh cinta.

Februari.

Masih biasa saja. Bulan ini adalah waktu-waktu MOS atau masa orientasi. Masa perkenalan kita dengan tahun baru yang tak terduga apa yang bakal terjadi. Bulan ini bulan kemenangan para pecinta, karena di bulan ini ada satu hari yang dikatakan sebagai hari kasih sayang. Para pecinta baik yang ABG, remaja, muda, tua , kakek, nenek, bapak, ibu semua yang ada disini akan mencurahkan segenap rasa kasih sayangnya pada orang terdekat. Para produsen coklat juga kebanjiran order di bulan ini.

Maret.

Aku masih pria biasa saja dan belum pindah-pindah dari bagian produksi ditempatku bekerja meskipun sudah tiga tahun mengabdi. Dan beruntungnya lagi, aku masih karyawan kontrak dan entah kapan jadi pegawai tetap. Tapi betapa beruntungnya aku. Aku jadi bisa pakai sandal jepit ditempat kerja sementara para pegawai tetap harus pakai sepatu. Aku enggak perlu diperiksa dokter tiap tanggal 20 karena aku enggak dapat tunjangan kesehatan. Aku bisa bebas naik angkot yang nyetel My lecon kenceng-kenceng karena enggak harus ikut bus karyawan yang Cuma berapa biji dan Cuma berani nyetel Dinda bestari. pokoknya di bulan maret ini aku puas walaupun masih jadi pegawai kontrak.

April.

Aku bisa beli sebuah skuter tua dari hasil mengumpulkan gajiku sejak masuk kerja dulu. Biarpun tua tapi masih mentereng, tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. wah, tiap sore aku bisa slalom dan nyore bareng temen-temen. Aku punya tunggangan, jadi sekarang aku udah berani godain cewek-cewek bertanktop yang sering berseliweran di kotaku. Eh iya, di bulan ini Udin anak mang ma’ruf tetangga sebelah udah berani sunat.

Mei.

Aku jalan dengan skuter tua di sore hari. Ufuk barat mulai memerah. Saat itulah yang terus kuingat. Aku kenal dia. Aku jalankan skuter pelan-pelan menyusuri jalan seraya menghindari lubang-lubang. Eh tiba-tiba dari arah kanan muncul sosoknya. Mataku jadi terus meleng ke kanan. Wah, cantik loh. Enggak tinggi-tinggi amat sih. Rambut ikal sebahu, pake hot pant dan atasan kaos surfing. Sendal jepit merah dikaki. Dia lagi berdiri didepan rumahnya. Mungkin sedang menunggu tukang bakso lewat. Ah kecantikan seperti itu. Aku terus terpukau menatapnya dan memutuskan untuk kenalan dengan…….Guuuuubbbrrraaakkkk….dengan tong sampah.

Sungguh sial nasibku bulan ini. Gara-gara keterusan ngeliat cewek, aku jalanin skuter enggak ngeliat kedepan. Akhirnya tong sampah jadi hadiah. Tapi seperti pepatah tiada gading yang tak retak. Maka keberuntungan berpihak. Cewek itu mungkin merasa iba melihat nasib naasku. Ia lari-lari kecil menghampiriku. Menawarkan bantuan berdiri, mengelap keringat, nempelin plester di jidat. Tambah kenalan. Namanya singkat namun padat: Tiara. Itulah waktu aku kenal dia. Gadis yang kuanggap tanpa cela. Hah, siapa sangka kalau sengsara membawa nikmat.

Juni-juli.

Aku dan Tiara makin dekat. Kemana-mana kita berdua. Segala cerita hidup masing-masing kami ceritakan. Dia butuh aku sebagai pendengar, aku butuh dia sebagai pencerita. Dia cewek yang terbuka, semua borok atau kurap dalam hidupnya diceritakan tak ada yang ditutupi. Dan ternyata kami punya banyak kesamaan. Kita berdua punya hobi yang sama: membaca. Dia suka baca Teenlit aku suka baca koran. Dan masih banyak kesamaan antara kami berdua. Tidak suka makanan pedas; benci dengan penindasan; sering lupa tiap bikin janji; sering menyatakan benci orang yang merokok. Dan lain sebagainya. Tapi satu hal yang paling mengejutkan diantara semua kesamaan yang kami miliki: kami sama-sama menderita sakit pernapasan. Walau beda dikit. Tiara sakit asma sejak lahir sementara aku menderita bronchitis sejak kelas 3 SMP. Memang suatu kebetulan yang mengejutkan. Namun yang terakhir ini meyakinkan kami bahwa kami banyak kecocokan dan akhirnya memutuskan untuk jadi sepasang kekasih.

Agustus.

Satu bulan sudah aku dan Tiara mengikrarkan janji. Segala kekurangan atau kelebihan kami mulai muncul ke permukaan. Dan tak salah bila kusebut dia gadis nyaris tanpa cela. Kepribadiannya yang menyenangkan. Tak pernah marah walau aku telat jemput ia dari tempat kuliah. Sebaik-baiknya cewek adalah Tiara, camkan itu. Bulan ini kami masih bisa nonton lomba balap karung di lapangan. Kami masih bercengkerama dan bercanda bersenda gurau. Kami masih bisa bermalam mingguan naik skuter tua. Dan kami masih bertahan dengan ikrar No sex until married. Bulan ini aku masih bisa terus mengantar Tiara check up kesehatan dua kali sebulan. Sebuah rutinitas yang mau tidak mau harus dan kudu dijalaninya untuk memantau kondisi kesehatannya. Sementara aku sendiri, agak sedikit tenang. Aku patut bersyukur karena sudah bertahun-tahun bronchitisku tak pernah kambuh lagi. Jadi aku tunjukkan perhatianku padanya. Sebisa mungkin kubahagiakan Tiara.

September-November.

Sinetron-sinetron televisi selalu mempunyai alur yang sama. Di awal kisah kebahagiaan ditonjolkan dan membuat para penonton ikut berbahagia atas sesuatu yang kurang jelas maknanya. Di pertengahan episode tragedi dan intrik mulai berperan. Kebahagiaan mulai direnggut dari kehidupan tokoh utama. Berganti jadi kesedihan, penderitaan, makian, cacian, cucian, dan lain sebagainya. Dan hebatnya di akhir cerita nanti pasti kebahagiaan akan datang menghampiri pemeran utama. Skenario ala sinetron ini juga terjadi pada diriku dan Tiara. Dan nampaknya kami telah sampai di pertengahan episode. Entah siapa yang harus disalahkan atas tragedi ini. Bukan Cuma kami berdua yang merasakan. Tapi semua. Semua yang tinggal di daerah ini, yang tinggal di kota kecil ini, juga yang tinggal di propinsi, pulau ini, bahkan negara tetangga pun ikut kebagian sampai-sampai kepala negara harus menelponi satu persatu para pemimpin negara tetangga untuk meminta maaf. Entah makhluk jahat macam apa yang tega membakar berjuta-juta hektar hutan hijau yang dulu jadi andalan kita untuk memproduksi oksigen dan air. Masalah yang tiap tahun ada. Pembakaran hutan demi membuka lahan baru seperti sudah jadi satu hal yang biasa saja. Demi mengirit biaya produksi mungkin. Dan celakanya yang melakukan bukanlah orang-orang dusun yang tak pernah merasakan empuknya kasur. Tapi orang-orang berdasi yang punya perusahaan-perusahaan perkebunan yang merekrut orang-orang dusun untuk membakar. Dan tengoklah kini. Kota kami berselimut kabut asap. Putih, dan juga mematikan. Anak-anak sekolah bisa bebas main PS2 karena sekolah diliburkan sampai asap menghilang. Banyak kegiatan terganggu, jarak pandang Cuma beberapa meter. Banyak turis batal kedaerah kami karena maskapai-maskapai penerbangan membatalkan seluruh penerbangan ke bandara yang tertutup putih tebal. Aku kurang peduli dengan semua masalah itu. Di bulan ini tragedi pertengahan episode mulai tiba. Orang-orang yang sehat walafiat saja takkan bisa bertahan apabila menghirup asap setebal ini selama berhari-hari. Apalagi yang telah mengidap penyakit pernafasan sebelumnya. Dan kami berdua mulai merasakan dampak dari tebalnya asap yang berkeliaran. Aku mulai terasa berat untuk bernafas, dan kali pertama aku sesak nafas lagi setelah bronchitisku tak pernah kambuh selama bertahun-tahun. Tapi aku masih bisa bertahan. Hanya satu yang kukhawatirkan, Tiara. Kekhawatiranku beralasan. Tiara masih sering kambuh sesak nafasnya jika kelelahan. Sungguh, kini rasanya aku ingin menyumpal saluran pernapasan para pembakar hutan itu dengan tisu toilet. Biar mereka rasakan derita yang Tiara rasakan. Sudah seminggu Tiara terbaring di rumah sakit. Selang oksigen untuk membantu pernapasannya belum juga bisa dilepaskan. Berawal seminggu yang lalu. Meskipun asap diluar amat tebal. Tiara memaksaku minta diantarkan ke perpustakaan umum untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya. Takut kena denda katanya. Tapi keputusanku mengantarkannya berakibat fatal. Tiara megap-megap dan nafasnya tersengal-sengal. Ia pun pingsan, tak sadarkan diri. Oh Tuhan, demi cintaku padanya. Biarlah semua beban ini aku saja yang menanggungnya. Aku larikan ia ke rumah sakit. Ruang I.C.U penuh dengan balita yang terserang ISPA. Dan kini seminggu sudah. Tiara masih tergolek tak berdaya di ruang perawatan intensif. Aku dan kedua orang tuanya bergantian menjaga. Ah, kalau sampai terjadi sesuatu dengannya. Aku takkan memaafkan diriku sendiri. Harusnya waktu itu kutolak permintaannya untuk mengantarnya keluar. Tiara, gadis yang kupikir tanpa cela. Yang tak pernah marah walaupun Cuma kuajak makan di warung siomay pinggir jalan, yang terus mengatakan kalau Buffon itu kiper yang hebat meskipun ia tak suka bola. pujaanku yang amat kukasihi, kembalilah padaku. Jika kau terbangun dari mati surimu. Aku akan memberikan kasih sayang yang lebih buatmu. Kembalilah, lawanlah asap yang mencekik ini. Oh ya, tentu saja. Aku mulai merasakan adanya harapan. Kami berdua baru saja melewati pertengahan episode. Setelah ini berarti kami akan tiba di ending yang membahagiakan. Jika hal itu terjadi, jika akhir bahagia menutup kisah hidup ala sinetron ini, Maka seharusnya sekarang Tiara sudah sadarkan diri, kemudian membuka mata, menatap sekeliling dengan muka ragu-ragu dan bingung kemudian berkata “ada dimana aku?” kemudian aku menjawab “kamu di rumah sakit sayang, selama seminggu kamu terbaring disini dengan alat bantu pernapasan yang terus menempel dirongga hidungmu. Dan selama itu pula aku terus disampingmu. Kini engkau telah kembali sayang.” Kemudian Tiara bakalan meneteskan air mata seraya sesenggukan dan memelukku sembari berkata “Aku sayang kamu.” Lanjut lagi…”Maukah kamu menikah denganku sayang?” dan gayung bersambut “Iya aku mau.” Akhirnya kami berdua hidup bahagia selama-lamanya di istana terindah dengan anak cucu kami. Tapi kenapa skenario ala sinetron itu tak kunjung terjadi? Apa demikian mahalnya bayaran si penulis Script ? kumohon wahai penulis naskah, tuliskan cerita dimana Tiara terbangun, kumohon, kumohon, kumohon…

Desember.

Akhir dari tahun ini tiba. Aku hendak bernyanyi sesuka hati. Tapi kenapa harus dengan lagu Desember kelabu. Entah apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang mengatur semua ini. Sepertinya sang penulis skenario memilih tuk bungkam dan diam seribu-basa. Atau mungkin ia tengah mogok kerja sehingga enggan menuliskan terusan dari episode ini. Aku sendiri terus-menerus memikirkannya. Tapi tak juga menemu jawaban. Andai aku bisa jadi sang penulis skenario maka akan kutulis Tiara benar-benar terbebas dari rasa sakit, terbangun dari ketidakberdayaan, kemudian kami mulai meniti jalan setapak kami demi meraih masa depan. Sebuah Ending yang bahagia. Tapi jika kutulis demikian, berarti aku hanya akan mengikuti gaya penulisan sinetron-sinetron murahan yang sering kukecam itu. Bisa juga aku tuliskan akhir yang mencekam, diluar dugaan, dan mengaburkan ego. Tiara selamanya terpejam dalam lelap dan terus menerus tercekik mengejar udara murni. Sementara diafragmanya berhenti naik-turun. Atau istilah mudahnya ia berpulang ke Rahmatullah. Tapi bukankah itu akan menyalahi aturan. Aku akan dikritisi oleh ribuan penggemar sinema yang menginginkan akhir yang bahagia dan bukan akhir yang terlalu didramatisir. Semula aku terus menerus ragu. Tapi sekarang aku percaya, diriku yakin kalau aku tak usah terlalu memikirkannya. Biarlah sang penulis yang menentukan apa yang harus dijalani sang kekasih hatiku itu. Apa ia harus meregang nyawa, atau bertabur bahagia bersamaku. Bila kalian penasaran dengan akhir cerita ini, jika kalian ingin tahu apa yang terjadi di penghujung tahun ini. Maka mulailah melenyapkan rasa penasaran itu, karena aku sendiri juga penasaran tapi tak jua mendapatkan penjelasan dan kepastian apa sebenarnya kepedihan di akhir tahun yang kuceritakan di awal tadi. Karena sebuah kebahagiaan terkadang tersamar rasa kepedihan sementara kepedihan terselubung tipis kebahagiaan. Sudahlah, buang rasa ingin tahu kalian. Jika kalian masih ngotot ingin tahu apa yang terjadi di bulan desember ini, maka bersama-sama coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang[1]

Baradatu, Way kanan 04 november 2006


[1] Lagu : Ebiet G ade – Berita kepada kawan.

Cerpen: “JURU SIAR MERINDUKAN CINTA”

January 11th, 2009 by indonesiangrunger

Ia kembali berceloteh. Karena memang demikianlah rutinitas harian-nya. Diberitakannya pada dunia apa yang terjadi, apa yang menyebabkan sang malam terlambat datang. Atau apa yang membuat mentari enggan bersinar. Dibeberkannya segala kebobrokan alam, atau rakusnya spesies kita mengeruk bumi. Bumi yang semakin rapuh dan merenta termakan usia. Ialah temanku, sang juru siar. Yang berwajah manis kemalu-maluan tapi menyenangkan. Yang sering berbusa-busa mulutnya saat mendongeng di depan perangkat siar. Marilah kuceritakan padamu tentangnya.

Ia masih duduk disana, bahkan sang surya makin garang membakar bumi. Awan-awan cummulus nimbus entah kapan bisa bergerombol macam kawanan domba. Terdengar suara ceklik-ceklik Mouse nan merdu, dengungan kipas tua yang mencegahnya kepanasan. Desahan nafasnya menandakan lelah, tapi ia masih bertahan. Ketika aku berkunjung ke ruang dimana ia bertahan, ia masih terdiam disana. “apa abang tak lelah dengan kehidupan ini?” tanyaku padanya. Masih sempat tangannya menggenggam mouse seraya berkata “This is my job.” Oh ya, tentu saja demikian. Aku seperti terserang amnesia saja, atau aku memang benar-benar lupa. Bahwasannya aku harus terbiasa ngomong inggris dihadapnya. Sang juru siar yang tergila-gila dengan istilah asing, juru siar yang merasa cute and also handsome. Juru siar yang merindukan cinta. Bisa saja ia membual sampai berbusa mulutnya mendefinisikan cinta kepada para pendengarnya. Bisa saja ia berkhotbah pada para jemaatnya mengenai keindahan cinta terakhir, dan apapun yang ia bilang, para jemaat akan tetap percaya. Tapi satu hal yang tetap tak bisa dipungkiri. Sang juru siar merindukan cinta.

Dan kisah cinta diawali beberapa bulan yang silam. Masih terngiang jelas di otak-ku saat ia dengan muka sembab seperti habis pingsan berkata : “ternyata pacaran amat memuakkan, aku ditipu. She’s never love me. She just want to hurt me. Aku hanya dijadikan cermin untuk merefleksikan hidupnya yang membosankan. I don’t wanna fall in love again.” Ya, masih segar di ingatanku saat ia curhat mengenai cinta pertamanya. Yang ia katakan amat indah sampai-sampai ia rela mengiris urat nadinya demi mempersembahkan darahnya buat sang kekasih yang sedang dahaga. Yang ia ucapkan 3 bulan yang lalu itu Cuma bertahan 1 bulan. Kesudahannya, ia bertandang kembali kehadapku, dan berkata : “Percuma kupotong urat nadiku buatnya, bahkan sekalipun kukeluarkan jantungku dari rongga dada kemudian kuperas biar bisa dapat darah dua liter. Ia takkan mau meminumnya. Dahaga yang dia rasa Cuma bisa dihalau dengan air mata. Sedang aku adalah insan yang jarang meneteskannya. You know guys? Love just make me sick.” Ia terus berkata menyesal telah menyerahkan cinta pertamanya buat sang gadis pujaan yang ternyata hanyalah reinkarnasi marie anttoinette. Ia kembali ucapkan janji bahwa ia kapok jatuh cinta. Ia bersumpah takkan pernah jatuh cinta lagi.

Dan seperti yang kubilang barusan. Itu beberapa bulan yang lalu. Dua pekan kemarin. Ia berkunjung kembali. Saat matahari beranjak dari peredaran, jangkrik bersiap dengan koornya. Angin makin ganas berhembus, rembulan seperti hendak memunculkan segenap kecongakannya dengan bersinar bulat penuh. Dan ia tiba, mukanya amat berseri, lagaknya sedikit salah tingkah. Sorot matanya amat tajam dan menandakan vitalitasnya tengah di titik tertinggi. Dengan amat ringan ia berujar pelan : “wow kau pasti takkan percaya, wajah itu memancarkan sejuta pesona. Bahkan ia serasa melayang ketika berjalan. Sungguh sebuah mahakarya, kecantikan tiada tara. And you know? I’m fallin in love. Aku jatuh cinta pada gadis itu.” Kalian percaya yang dibilangnya barusan? Temanku sang juru siar baru saja berujar, ia jatuh cinta lagi. Terdengar sekawanan kodok bangkong bernyanyi. Entah gembira mendengar berita ini atau hendak memperolok.

5 menit yang lalu aku baru sampai di kediaman. Setelah bertarung dengan keganasan jalan raya, bergelut dengan tebalnya debu jalanan, dan berebut dengan sang waktu di sela-sela kemacetan. Aku selamat sampai rumah. Seraya melepas rasa pegal di pundak, aku nyalakan radio. Dan coba kalian ikut mendengarkannya. Temanku itu, sang juru siar kembali memulai khotbahnya tentang cinta. “cinta adalah anugerah yang maha kuasa, cinta adalah sebuah pembuktian diri. Kita harus mencurahkan segenap cinta kita pada semua orang. Tapi yang terpenting, adalah kepada sang kekasih hati. Dan kita harus menjatuhkan pilihan kita kepada pribadi yang tepat, pastikan bahwa makhluk yang kita cintai adalah sosok yang akan selamanya menjadi curahan rasa cinta. Kalau yang seperti demikian belum kita temukan, lebih baik kita jangan berani jatuh cinta dulu. Karena suatu saat nanti pasti kita akan terjatuh. Atau istilah mudahnya, Karena salah memilih pasangan. Kita akan mudah putus. Ok para pendengar. Nanti saya masih akan menyambung kembali bahasan mengenai cinta. Setelah pesan-pesan berikut ini.” Nah, itu dia yang kumaksud. Temanku itu, sang juru siar. Sepertinya ia sudah bertransformasi menjadi seorang filosof cinta. Dan aku hampir muntah dibuatnya. Apa yang ia khotbahkan sungguh berbeda jauh dengan yang ia jalani.

Jam 7 malam aku bertandang ketempat kerjanya. Ia masih bertugas, hal yang mana membuatku terheran-heran. “ kenapa siaran terus seharian? Apa enggak ada penyiar lain?” tanyaku padanya. Dan kalian tahu apa jawabnya. Ia malah terdiam selama setengah menit. Bibirnya manyun 2 centi kedepan. Wajahnya pucat meringis seperti menahan sakit. Mukanya kacau balau macam orak-arik telur. Pokoknya ia seperti tengah menahan beban 10 kilo dipundak. Setengah menit kemudian baru ia berkata : “shit, why always me. Kenapa mesti aku yang jadi korban, kau tahu? Ternyata gadis itu sudah berpasangan dengan dedi, Anak lurah yang mobilnya velg racing itu. Padahal aku sudah cinta mati sama dia. Tapi cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Ah, tapi ya sudahlah tak perlu sedih. Toh aku seorang lelaki. Pasti besok akan ada gadis yang jatuh hati padaku.” Gatal sekali rasanya lidah ini hendak mengkoreksi : pasti besok akan ada lagi gadis yang membuatku jatuh hati. Aku mulai bosan dengarkan segala perihal cintanya yang memuakkan ini. Aku putuskan angkat kaki dari tempat kerjanya malam ini juga. Aku sudah tak tahan lagi. Lalu sampai mana persoalan ini akan selesai. Dimana kiranya perahu yang penuh pertanyaan ini berlabuh. Cuma problem yang sepele, temanku itu, sang juru siar yang tiap harinya berkhotbah tentang cinta sejati. Namun kenyataannya ia demikian mudah jatuh cinta. Persoalan ini nyaris jadi sebuah paradoks. Paradoks yang tak ada solusi buat mengatasinya. Dan aku lama-kelamaan jadi berpikir, kapan juru siar itu bakal menemukan cinta sejati yang selalu di bualkannya itu. Dimanakah perasaannya bakal berlabuh. Atau bisa jadi perahu cintanya tak akan menemukan pelabuhan buat tambatan hati. Perahunya bakalan kekal abadi berlayar mengarungi samudera asmara. bukan asmara yang menyejukkan, Asmara dengan bahasa yang mudah dipahami nalar pikir manusia biasa. Tapi asmara yang menciptakan kebingungan. Sebuah kebingungan massal. Untung saja aku tak bakal tergiur cinta semudah sang juru siar. Aku bakalan menjatuhkan jangkar asmara ke tempat yang tepat. Aku akan mengembara bersama tiupan tornado demi mendapatkan tambatan itu. Aku tak akan mengobral atau melakukan cuci gudang cinta demi mendapatkan kepuasan sejenak. Aku bukan seorang juru siar yang pandai merangkai kata-kata demi menarik pendengar. Aku bukan seorang juru siar yang berkemampuan dua macam bahasa asing. Dan aku Cuma temannya, teman dari seorang juru siar yamg merindukan cinta.

Tanpa kuperintahkan, tiba-tiba langkahku terhenti di sudut jalan perumahan ini. Mataku tertuju pada satu titik. Dari kejauhan aku menatapnya. Wow, wajah itu sungguh menyejukkan. Seandainya aku bisa merasakan kehalusan dari wajahnya. Andai aku bisa bersandar di bahunya. Andai aku bisa beradu pandang dengan sorot matanya yang menyejukkan. Langkah kakinya yang ringan, keindahannya bagai atmosfer kesegaran yang memayungi bumi dari bahaya meteorit. Sungguh aku terpukau, aku terpesona. Aku terpesona dengan baju tanktop yang dia kenakan. Aku jatuh hati dengan rok mini yang bergantung di badannya. Aku kagum dengan kesintalan bodinya. Oh, Tuhan, apakah ini yang namanya cinta? Ya, aku telah jatuh cinta. Aku menemukan pelabuhan yang tepat buat menambatkan jangkar cintaku. Aku jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta. Kalian percaya ini? Aku jatuh cinta…

***

Petang ini aku duduk santai didepan rumah, seraya mendengarkan radio. Dan kalian tahu siapa penyiarnya. Temanku itu, sang juru siar yang merindukan cinta. Dan kalian percaya apa yang ia ucapkan? Begini yang ia katakan : “baiklah para pendengar,satu kesimpulan yang bisa saya ambil dari bahasan hari ini adalah sebagai berikut. Kita harus memperjuangkan cinta. Kita harus hidup didunia ini dilandasi rasa cinta pada sesama. Tapi yang terpenting, kita harus menjatuhkan cinta kita pada pilihan yang tepat. Janganlah anda mudah jatuh cinta pada seseorang. Pastikan bahwa seseorang itu adalah pilihan yang tepat. Sekali lagi saya tekankan, jangan mudah jatuh cinta pada……”

untung saja aku masih bisa menahan laju isi perutku agar tidak meloncat keluar dari dalam. Mana ada orang yang mau lagi percaya dengan bualannya itu. Ia terus berucap agar jangan mudah jatuh cinta. Tapi lagaknya sungguh seperti seorang pengobral cinta. Dan untung saja aku bukan sepertinya. Temanku itu, sang juru siar yang merindukan cinta. Untung saja aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Eh, siapa yang lagi ngangkat jemuran di rumah depan itu, kayaknya tetangga baru. Wow, cantik nian gadis itu. Sepertinya…aku telah jatuh cinta padanya…

SELESAI

Baradatu, Way Kanan, 04 sep 2006

Review: Kedua Kalinya Saya Menonton Konser Koil Di Alun-Alun Sragen 11-12-2008.

December 20th, 2008 by indonesiangrunger
Aris Setyawan Rockin Koil Show

Aris Setyawan Rockin Koil Show

Waw, menyenangkan rasanya dapat kesempatan kedua untuk bisa menghadiri konser Band Industrial Rock ini. Setelah beberapa waktu yang lalu sempat melihat penampilan gahar mereka di Parkir Stadiun Manahan Solo. Sebenarnya jarak antara Sragen dan Karanganyar cukup jauh, tapi demi Koil ya Saya dan kawan Saya Hary Goodboy bela-belain berangkat. Kapan lagi bisa nonton Koil? Kalau nunggu ada EO yang manggil mereka Main ke Karanganyar kayaknya enggak deh. Enggak ada maksudnya. Koil main di Sragen dalam rangka tour yang digelar oleh salah satu produsen Rokok yang asalnya dari Amrik. Sebelum kawan-kawan Koil menghajar Massa dengan Distorsi maksimum. Show didahului penampilan band-band lokal. Saya agak lupa list band yang main, karena ketika Saya datang sudah agak terlambat, tepat Saya tiba di Stage, Down For Life sedang memainkan hits-hits mereka. Saya sempat berpikir setelah Down For Life pasti Koil langsung main. Tapi ternyata dan tidak dinyana. Eng ing eng, ada satu band lagi yang main. Huffh, I’m so excited, I can’t wait anymore. Tapi ya mau gimana lagi. Band yang main ini bernama The Shine, dan tau musik yang mereka bawakan? Campur-campur alias Top40. yang cukup membuat interest tentu saja dua penyanyi ceweknya yang cara berpakaiannya bener-bener beuuuhhh. Bikin melek. Super ketat semua, satunya pake hotpants superpendek, satunya rok mini yang kayak bukan rok. (eh mau review Koil apah Rok mini cewek sih?) ok, disudahi Saja rok mininya, kembali ke Koil. Setelah The Shine main yang ditunggu datang juga. Leon naik pertama kali, lalu Ibrahim Nasution a.k.a Imo a.k.a Bobby, dilanjut Adam Vladvamp, Donny. Sang pengkhotbah Otong Verdijantoro naik panggung paling belakang. Koil membawakan lagu-lagu mereka dari album Blacklight Shines On, juga dari album lama Megaloblast. Hiburan Ringan menyerbu pertama Kali. Dan dilanjut dengan lagu-lagu lainnya. Nyanyikan Lagu Perang, Sistem Kepemilikan, Aku Lupa Aku Luka, Dosa, Ajaran Moral Sesaat (Sori lupa Songlistnya) ditutup dengan Kenyataan Dalam Dunia Fantasi. Entah kenapa di Konser kedua yang Saya tonton ini rasanya kurang klimaks. Tak seperti konser pertama di Gor Manahan yang Saya tonton dulu. Mungkin karena Songlist sekarang terasa agak kurang, Semoga Kau Sembuh, Lagu Hujan, Matahari, Mendekati Surga tak masuk Songlist. Juga yang membuat tidak klimaks menurut Saya adalah Soundsystemnya yang kurang menggigit. Dulu di Gor Manahan Soundnya dapet banget. Sementara di Sragen ini agak kurang memadai Soundnya. Ada beberapa kejadian menarik di Konser ini yang Saya alami:

1.Photografer official Koil (Saya kurang tahu namanya) sedang mengambil gambar didepan Stage, kebetulan Saya dan teman Saya Hary Goodboy berada dibarisan paling depan. Saya tunjukkan CD Blacklight Shines On yang tadinya niat Saya mau mintakan tanda tangan Koil diatasnya. Terus Saya bilang “Mas Foto Dong” dan difotolah Saya dan teman Saya Hary. Saya bilang kepadanya “tolong diupload ke Multiply Koil ya Mas! Nanti Saya Donlot disana. Dia hanya mengangguk Saja, yah semoga saja diupload bener.

2.Setelah Imo sang pencabik gitar selesai CheckSound. Saya panggil namanya Imoooooo….sembari menunjukkan CD Blacklight Saya. (Hahaha sebuah ID sebagai penanda bahwa Saya dan Teman Saya Hary Satu-satunya penyuka Koil Disana. Dibarisan belakang berkibar banner-banner Slank, Rasta, Oi, Dll. Karena ga ada banner Koil maka Jadilah CD Blacklight Saya angkat tinggi-tinggi) eh Akhirnya dia ngelihatin Saya. Senyum deh. Dan belakangan Imo tahu aja kalo Saya kehausan, maka Dilemparkannya sebotol Air mineral ke Saya. Minum Blaaahhhh…..

3.seperti dikonser Gor Manahan Kemarin Dulu, untuk kesekian kalinya Otong Mengucapkan: Yah nasib jadi Band ga terkenal seperti Koil. Jadi kalian mungkin ga tau lagu-lagu kami.

4.Beberapa kali Otong menyindir Artis-Artis selebritis (kalo dulu ga deh, sekarang Sindir-Sindir ya) mulai dari Miss Band, Band Sing Wis Mesti Aku Wong Jowo, Ipan GunWanWan, RubBand On Shou, Afghanistan dan beberapa lagi kena Sindir Otong.

5.entah tulus dari lubuk hati yang paling dalam ataukah Cuma Sindiran Satire belaka. Otong Bilang ” buat Soundsystem Ken dedes, Sukses mas buat Bisnisnya…” apa kecewa karena Soundnya yang jelek ya?

6.yang ini paten Saya baru ngelihat sekali. Nampaknya Otong sedang suka dengan hobi baru ini. Seolah Beliau ini kerasukan Arwah Kurt Cobain kemudian membanting gitar merah yang sedang dimainkannya. Dahsyaaaattt….

7.banyak sekali CD dan DVD yang dilemparkan ke penonton. Dan Saya ga bisa dapat Satupun, Lucky Me…

8.ini yang paling hebat dan menarik dari semua kejadian diatas. Ketika barisan belakang mulai rame-rame, Saya menengok kebelakang. Dan apa yang terjadi, orang-orang tolol dan arogan yang sedang mabok Ciu itu sedang berantem, saling hajar, tonjok-tonjokan. Aparat kepolisian yang berjaga didepan Stage langsung melompat mengejar para perusuh itu. Hary yang belum sadar situasi langsung Saya tarik ketempat aman sebelum dia keinjak para Polisi yang melompat mengejar perusuh itu. Hey, katanya hebat dan menarik. Mana? Ini dia yang hebat, ketika pak polisi melompat mengejar perusuh itu. Kaki Saya terinjak Kaki salah satu dari mereka. Padahal pak Polisi pakai sepatu Boot yang tebel itu. Aduuuuhhhh Sakiiittttt. Hebat kan?

9.Otong Verdijantoro sepertinya sangat berterimakasih kepada Ahmad Dhani terkait beredarnya Lagu Kenyataan Dalam Dunia Fantasi Feat The Rock dibawah naungan Republik Cinta Management. Hal ini dituturkannya didepan keramaian.

Sebuah hiburan yang lumayan. Menonton penampilan band Industrial Rock itu di alun-alun kota Sragen. Next time datang lagi ya, Sukur-sukur kalo di Karanganyar aja, jadi Saya ga harus pulang malam-malam naik Sepeda motor dijalan lintas Sragen Karanganyar yang Sepi dan gelap.

Viva Koil….

ARIS SETYAWAN

Karanganyar 111208 (For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Negeri Reality Show

December 20th, 2008 by indonesiangrunger

“…Ini kenapa rame-rame begini ada banyak kamera segala…???

Mungkin kalimat diatas sering kita dengar belakangan ini di stasiun2 teve negeri kita tercinta ini. Ya, kalimat favorit yang sering diucapkan seseorang yang muncul di program Reality Show. Sodara-sodara, ditengah masyarakat yang semakin bergantung pada televisi sekarang ini. Maka stasiun teve harus makin pintar dalam meraih simpati pemirsanya, dengan cara membuat program2 yang sekiranya bakal laris manis tanjung kimpul. Dan celakanya belakangan tv kita semakin ga kreatif, mengeluarkan jurus aman ‘Ikut-ikutan’ membuat program tv lain yang laris. Budaya plagiat dengan tanpa malu mereka terapkan di negeri ini. Setelah beberapa waktu dulu trendnya adalah membuat sinetron Religi, Kuis, Ajang pencarian bakat, Acara Tangga lagu dengan pengisi acaranya Artis2 dan Band2 Top Ibukota yang bahkan performance mereka Lypsync serta Minus One. Membuat sinetron dengan judulnya nama-nama orang keren seperti Melati, Mawar, Marvel, Spiderman, Intan, Permata, Maia, Ahmad, Bunga, Desa, Indah, Sekali, Dll, Dst, Dsb. (Dan kenapa harus pake nama2 keren? Kenapa ga pake nama Bejo, Mimin, Maman, Momon, Dll, Dst, Dsb)

Sekarang yang lagi Up2date untuk ditiru adalah: Ladies and gentlement, let me introduce nowadays Indonesian people Fav Tv Programme; Reality Show.

Entah buat Anda yang sering menyimak atau bahkan ga mau tahu sama sekali. Tv kita dipenuhi Reality show. Dan tema dari acara2 ini sangat beragam. Mulai dari yang isinya nyari orang hilang, menjebak Playboy kesrimpet kabel, Memata-matai (Wah Spionase di tv. Kereeeeennnn), ‘Balikan’ dengan mantan pacar, Backstreet2an, ketemu temen Chatting, menjebak selingkuhan. Dan banyaaaaakkkk lagi.

Terjemahan harfiah “Reality Show” dalam bahasa Indonesia berarti “Acara yang berdasarkan Realita atau Kenyataan” heeeemmm berarti kita bisa dengan kuat berasumsi inilah kondisi realita Negeri ini: banyak orang hilang, banyak Playboy berkeliaran, Banyak Mata-mata dan spionase baik yang benar2 dari pihak Intelijen suatu negara atau Cuma Mata2 Bohongan, banyak Orang Rujuk, banyak Penggemar Backstreet Boys (Nah Loh…?? Ralat. Banyak yang punya hubungan cinta tanpa disetujui), banyak orang yang tadinya Cuma chatting lalu kopi darat, dan inilah yang paling hebat. Di negeri ini banyak orang Selingkuh.

Lalu kenapa hanya semua problema itu saja yang diangkat kepermukaan? Kan masih banyak realita lain yang bisa dijadikan tema? Kisah Cinta Kaum Kusam, kehidupan para termarjinalkan, uang makan kuli bangunan, Pencopet patah hati, Korupsi berjamaah. Apalah. Mungkin ya itu tadi ya, namanya juga Reality Show, jadi yang diangkat ya Realita2 yang paling Penting Saja. Ok, beberapa Reality show memang mempunyai tema yang bagus. Yang isinya mencari orang hilang, cewek cakep tinggal bareng orang miskin, renovasi rumah. Tapi beberapa Reality show yang ada sekarang terasa sangat mengganggu. Ada yang menganggu privasi orang lain, bahkan semuanya nyaris sama, terutama yang temanya perebutan pacar atau kisah tentang seorang yang disakiti kekasihnya. Pada akhir acara2 itu kini harus diakhiri dengan berantem, jotos, tonjok, pukul, hantam, ngumpat, nama2 binatang disebut. Oh My God, apakah memperebutkan lawan jenis itu begitu penting sampai harus dibuktikan secara konfrontasi dengan kekerasan didepan publik seperti itu? Seolah-olah mereka tengah membela ideologi negara atau sebuah kepercayaan religius. Kalaupun memang penting kenapa juga harus dipublikasikan di tv. Sementara para pembuat acara ketika ditanya kenapa harus menampilkan adegan saat subyek berantem dengan enteng menjawab: namanya juga Reality Show. Semua mengalir apa adanya, direkam, editing minim, tanpa Naskah. Would You Believe it? Apa benar sebuah reality Show tanpa naskah? Apa benar orang2 didalamnya mengalami kejadian sebenarnya tanpa Akting? Lalu kenapa semua terasa seperti sadar kamera? Sadar bahwa mereka tengah disorot?

Beberapa acara juga sudah melenceng dari tema awalnya dan mencampuri urusan para client atau pelaku acaranya terlalu jauh. Acara yang isinya menjebak Playboy. Mereka bertugas menjebak seorang playboy agar ketahuan ke-playboy-annya didepan sang pelapor. Dan harusnya urusan mereka hanyalah menjebak sang playboy, ketika tugasnya sudah selesai dan playboy sudah ketahuan maka mereka harus lepas tangan, karena masalah berikutnya adalah privasi antara sang pelapor dan playboy. Biarlah mereka menyelesaikan sendiri perkara mereka. Namun kenyataannya para host Reality show tersebut kebablasan dengan ikut menghajar playboy, menghakiminya seolah-olah mereka mempunyai kepentingan didalamnya.

Apapun isi acara tersebut, Saya hanya bisa menyimpulkan bahwa negeri ini sedang senang bermimpi. Maka wajar jika para produsen reality show ogah membuat acara tentang realita yang sebenarnya di masyarakat. Dan angkatlah ke permukaan realita yang mereka anggap penting. Sesuatu yang menurut Saya terkadang Absurd, diluar nalar, terlalu berlebihan dan ga penting. Untuk apa membahas cinta monyet atau cinta lokasi dan selingkuh ketika perut sedang lapar karena tak mampu menebus sekilo beras yang harganya sudah terlampau mahal? Untuk apa meributkan perebutan kekasih atau menegaskan status sebuah hubungan ketika kepala sedang pening memikirkan, bagaimana biar bisa bayar tunggakan kontrakan yang 3 bulan tak terbayar?

“….Woi, An*i*g Lo, Ngen**t, awas lo ye tunggu pembalasan Gue…besok2 ye gue hajar balik Lo…”

Sebuah kalimat yang lagi2 ada di sebuah reality show, nampaknya sang tokoh didalamnya sedang merencanakan sebuah Vendetta. Balas dendam karena tidak terima, bisa jadi ga terima diperlakukan layaknya seorang koruptor dengan disorot kamera. Atau bisa jadi yang lain. Selamat datang di Negeri Reality Show.

ARIS SETYAWAN

Karanganyar 111208

(For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Grunge Resurrection

December 20th, 2008 by indonesiangrunger

Bayangkan ketika sekarang ini anak-anak Abg, Pelajar-pelajar Sma, juga anak-anak gaul lainnya yang biasanya berstyle Emo dengan rambut poni, celana ketat dan kaos MCR nya malih rupa berdandan ala Grunge. Mengenakan kemeja flanel ditambah jeans robek, rambut panjang acak-acakan, sepatu belel yang ga dicuci selama 3 bulan. Ketika itu terjadi mungkin kita sudah tiba dimasa kebangkitan Grunge.

Kenapa kebangkitan? Memang Grunge sedang mati ya? Kurang lebih bisa disebut demikian. Tapi lebih tepatnya genre yang sempat besar di awal tahun 90-an ini bukan mati. Hanya saja kurang muncul dipermukaan. Mari kita flashback ke masa lampau. Ketika grunge dengan hebatnya menjajah ranah musik Internasional. Saya tidak akan menyebutkan awal kemunculan Genre ini yang dimulai dari tahun 80-an oleh Green River, Mudhoney dan kawan-kawan. Untuk anda yangmungkin masih penasaran atau belum tahu sejarah panjang aliran musik ini silakan cari sendiri saja di Internet. Saya hanya mengajak flashback ke masa kejayaannya, era awal 90-an. Dimulai dengan meledaknya Album fenomenal Nirvana yakni Nevermind. Setelah sebelumnya tak ada satupun band Alternative atau secara spesifiknya Grunge yang bisa masuk jalur mainstream, Nevermind membawa sebuah formula tepat yang akhirnya bisa membuatnya masuk mainstream. Setelah penjualan Nevermind meledak, menyusul band-band grunge lain dikontrak label besar. Sebut saja Pearl Jam, Soundgarden, Alice In Chains. Band-band yang tadinya dipandang sebelah mata tiba-tiba bisa menjual jutaan copy dan menguasai tangga lagu. Grunge pun menjadi sebuah subkulture baru yang menguasai dunia menggantikan era metal dan glamrock. Mulailah anak-anak muda dipenjuru dunia mengikuti gaya idola-idola mereka mengenakan Style ala grunge.

Kenapa grunge begitu mudah diterima kala itu? Kenapa genre ini akhirnya baru bisa masuk mainstream pada awal tahun 90-an? Padahal sebenarnya bukankah genre ini sudah muncul dan tercipta cukup lama sekitar tahun 80-an ketika Mark Arm dari band Green River mengenalkannya kepada publik Seattle. Pada tahun itu pula band-band yang menggaungkan grunge semakin menjamur di kota asalnya Seattle. Tapi pada tahun itu pula grunge tak pernah bisa masuk mainstream karena kalah pamor dengan Metal dan glamrock yang sedang digandrungi saat itu. Menurut asumsi Saya grunge bisa diterima pada awal 90-an karena itu adalah momen yang tepat. Kondisi dunia yang sedang kacau balau, banyak orang frustasi, perang Teluk, Resesi Ekonomi, penyalahgunaan Obat terlarang yang makin merajalela. Dunia yang sedang depresi butuh sebuah wadah penyaluran untuk melepaskan semua masalah itu. Dan Grunge dianggap sebagai sebuah lansekap yang tepat. Sesuai dengan imej yang melekat pada grunge: depresi, frustasi, alienasi, drugs addict dan dunia berkata ini dia Sebuah lansekap buat melepas semua masalahku.

Secepat kemunculannya, secepat itulah pula kemundurannya. Perlahan namun pasti genre ini mulai memudar hilang dari peredaran. Pergeseran selera musik dituding sebagai penyebabnya. Budaya pop memang selalu bergerak dari satu ke yang lain dan tibalah saatnya bagi grunge untuk menghilang. Selain pergeseran selera musik ditambah lagi berbagai perpecahan serta bubarnya band-band yang mengusung alirannya. Tewasnya Kurt Cobain frontman Nirvana karena bunuh diri, Juga Layne Staley vokalis Alice In Chains yang meninggal karena overdosis penggunaan heroin, bubarnya Soundgarden. Dan banyak lagi band-band lain menyusul pecah atau bubar mempercepat pudarnya pengaruh grunge di kancah musik. Setelah berhasil menguasai dunia selama beberapa tahun maka hilanglah Seattle sound dari peredaran. Menyisakan keturunannya yang mentasbihkan diri dengan nama Post Grunge.

Sebenarnya setelah era 90-an itu grunge tidak sepenuhnya mati. Tentu saja masih banyak orang yang suka dan setia mendengarkan serta menganut Style grunge ini. Diseluruh dunia, khususnya di Indonesia masih banyak band-band yang mengaku memainkan musik distorsi keras ini. Hanya saja mungkin yang menjadi masalah adalah kurangnya naik ke permukaan. Band-band beraliran grunge ini kebanyakan hanya bisa bermain musik dan mengedarkan rekaman mereka di kalangan komunitas. Tak bisa masuk mainstream persis seperti halnya di awal kemunculan grunge tahun 80-an lalu. Band Grunge Indonesia yang bisa masuk mainstream atau major label bisa dihitung. Navicula, Cupumanik, Plastik di beberapa dekade lalu. Padahal banyak band-band bagus di negeri ini, hanya saja kendalanya mungkin kurang adanya wadah yang benar-benar bisa menjadi tempat berekspresi band grunge. Beberapa band memang bisa membentuk komunitas-komunitas yang cukup maju, membuat berbagai gigs-gigs dan event untuk menyalurkan nafsu bermusik, mengedarkan zine-zine baik yang dicetak maupun memanfaatkan media Blog, Fs, forum dan milis-milis. Tapi semuanya masih berkutat di ranah komunitas sendiri. Menjadi konsumsi komunitas. Sementara untuk mengharap ada seorang Good Samaritan dari pihak mainstream yang akan mengangkat Grunge ke permukaan ditengah kondisi industri musik Indonesia yang seperti ini sepertinya juga tidak mungkin. Jadi apakah akan ada wadah-wadah yang bisa membantu lagi kebangkitan grunge secara lebih baik?

Tapi untungnya masih ada juga pejuang-pejuang yang dengan penuh semangat membuat wadah itu. Sebuah tempat dimana para musisi pengusung grunge bisa saling bertemu, mempublikasikan musik yang mereka buat serta saling bertukar pikiran. Sebut saja www.totalfeedback.com yang sudah beberapa tahun tetap online sebagai Webzine serta direktori Grunge Indonesia. Disana kita bisa mendapatkan berita terbaru tentang Grunge, review band-band keren, membaca Artikel-artikel yang ditulis para Grungies, mendownload lagu-lagu yang disediakan, serta mengiklankan band kita. Terima kasih kepada Admin Totalfeedback yang masih bertahan mengelola situs itu walau dengan dana operasional pribadi. Selain Totalfeedback belakangan Situs yang muncul untuk dijadikan media bertukar pikiran para Grungies adalah www.naviculamusic.com

Web yang dikelola band asal Bali Navicula ini baru saja launching, dan rencananya juga akan dijadikan sebuah wadah bertemu para grungies. Terima kasih juga kepada Navicula yang mau membuat situs tersebut. Diharapkan dengan hadirnya www.naviculamusic.com serta tetap eksisnya www.totalfeedback.com bisa benar-benar menjadi media penyebaran grunge yang lebih baik. Sehingga Genre ini bisa terpublikasikan secara lebih luas dan akhirnya muncul kembali kepermukaan, kemudian kembali menjadi Genre yang menjajah peta musik Dunia dan Indonesia pada khususnya. Mari kita berharap ini akan menjadi kebangkitan Grunge.

Grunge Resurrection…!!!

Aris Setyawan

Karanganyar 12-12-2008

(For More Sh*t Please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Grunge, Harus Suramkah?

December 20th, 2008 by indonesiangrunger

Saya pernah ikut sebuah milis yang bernama I-rocks. Milis ini diikuti banyak kalangan mulai dari para pekerja kantoran, wartawan musik, juga beberapa musisi terkenal negeri ini ikut didalamnya. Pokoknya yang ikut di milis ini ya orang-orang yang suka musik Rock. Apa yang menjadi tema didalam milis ini? Apapun yang berbau Rock dan turunannya. Milis ini terbilang sangat ramai aktivitasnya, setiap hari selalu ada thread baru yang dimunculkan entah membahas sebuah Current affairs ataupun membahas sebuah Album dari band rock kenamaan. Beberapa waktu setelah Saya gabung di I-Rocks Saya belum berani membuat Thread sendiri. Saya hanya membaca thread-thread yang ada dan menyimak apa-apa yang sedang didiskusikan disana. Dan memang benar apa-apa yang dibahas menyangkut rock dan turunannya mulai dari Metal, Progresive rock, heavy metal, Industrial Rock, Alternative, dll, dst, dsb. Tapi tak ada satupun yang membahas Grunge, akhirnya Saya beranikan membuat sebuah Thread dengan judul “Ada Yang Suka Grunge Ga Disini?” isi Thread hanya Saya isi singkat saja sebab inti thread ini sudah terjelaskan hanya pada judul. Beberapa waktu kemudian berbagai jawaban muncul dari para Anggota I-Rocks. Dan ini beberapa diantaranya:

“Saya dulu sempat Suka pas masih Sma, kalo sekarang kayaknya ga deh. Bosen…”

“oh ya Grunge ya, gimana ya. Kalo Cuma lewat dengar beberapa lagu sih ok aja. Tapi kalo disuruh suka banget kayaknya enggak deh. Soalnya Grunge ngebosenin banget tuh musiknya cuman gitu-gitu ajah…”

“Gw Suka Alice In Chains, tapi ga setuju kalo Do’i dikotakkan ke Grunge. Gw lebih suka Alice disebut Hardrock. “

“…Grunge…grunge…grunge…Suara motor 2 tak distarter….”

“Say Yes To Ed PJ, Say No To Cobain Nirvana…”

“Gw ikut nimbrung aja ya bro, Queen Of The Stone Age ntuh masuk Grunge ndak Seh?”

“Gw ga suka Grunge, Soalnya isinya Suram melulu…..”

Mengkutip komentar yang terakhir, Grunge isinya Suram melulu. Haha, mungkin memang sudah menjadi takdir bahwa Genre ini harus menegaskan sisi-sisi gelap. Depresi, frustasi, Alienasi, Kecanduan Obat terlarang, Suicide, Patah Hati, dan masih banyak lagi hal gelap lainnya. Apa karena Genre ini berasal dari kota Seattle yang udaranya selalu dingin, Kota yang selalu gelap tertutup mendung dan hujan. Maka musik yang tercipta disanapun gelap dan suram juga? Sesuram nasib para penduduknya yang notabene kebanyakan mempunyai kehidupan yang suram.

Yang tetap menjadi sebuah pertanyaan adalah Harus Selalu Suramkah Grunge? Bagaimana kalo tema-tema yang dibawakan musik Grunge dirubah saja membahas sesuatu yang lebih menyenangkan? Selingkuh mungkin, bukankah selingkuh itu menyenangkan? Buktinya belakangan semua band-band Indonesia lagi demam membuat lagu bertema selingkuh atau menyeleweng dari pasangan. Apakah jika sebuah band Grunge membuat lagu bertema diluar kesuraman lantas mereka dicap ‘Udah ga Grunge lagi karena udah ga suram’ lalu apa kalo sebuah band memutuskan membuat lagu bertema ceria dianggap sudah berkhianat dari Mazhab grunge? Tentu semuanya kembali ke diri kita sendiri. Bagi para penyuka musik Grunge, bisa ga kita menerima sebuah band yang keluar dari pakem Suram dan melangkah ke sisi ceria bahagia?

Aris Setyawan

Karanganyar 12-12-2008

(For More Sh*t Please Visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Impious Punk: Genre Besar Yang Kehilangan Idealisme & Filosofi

December 20th, 2008 by indonesiangrunger

Gara2 nulis kayak gini maybe gw dah bikin marah Punkers2 seantero Nusantara. tapi gw merasa perlu nulis gini setelah kejadian yg gw alamin belakangan ini. koq Punk jaman sekarang dah kehilangan Arti ya? lha cita2 sid Vicious & Jonny Rotten Sex Pistols jd ga jelas donk, pasalnya Punk memang lepas dari keteraturan, bebas dari pengekangan, anti kemapanan. tapi Punk sejati memegang teguh idealisme, punk sejati tau ujung pangkal luar dalam kenapa mereka milih jadi seorang Punkers. sangat berlawanan dengan Impious Punk yang gw liat kemaren……

pas gw maen di satu Gigs Gitulah, Para Punkers2 (zaman sekarang) ini menunjukan sifat liarnya dengan moshing2 ga keruan, teriak2 ga jelas, dan ngoceh2 marah2 gitu. hal ini bikin gw bertanya dalam hati: mereka sebenarnya ngerti ga seh makna lgu yang sedang gw bawain? mereka tu moshing2 bergembira ria karena seneng & meresapi lagu gw, apa cuma moshing karena pengaruh minum cap tikus doank. selidik2 selidk dan hal ini yg buat gw jd miris, ternyata memang benar, kebanyakan dari mereka Moshing karena dibawah pengaruh Alkohol tingkat tinggi (Halah, Peterpan Kaleee Khayalan Tingkat Tinggi)

mereka2 ini menganggap Punk Harus Kasar, kotor, ga mandi (emang Iya seh) tapi Filosofinya kan dah Laen Yah…??? Punkers memang jarang mandi, agak kasar, dll tapi dengan Idealisme Kuat untuk membuktikan bahwa mereka bisa DIY, ga tergantung orang laen, dan untuk melawan penindasan. lha Punkers yg gw jumpa kemaren filosofinya gini: Punk harus kasar, kotor, mabok, moshing2 pas denger lagu keras (lagu keras? lagunya Radja juga keras kaleeee), malak2 anak2 sekolah. look…!! Tu sifat Preman yah? bukan sifat Punk….

gara2 kearoganan mereka, di daerah gw punk jadi di cap sampah n jelek. tiap Gigs mencantumkan “No Punk No Underground”

Gw jadi berharap banget deh, Filosofi Punk yang dah dirancang Sid Vicious Dkk dr Sex Pistols bisa kembali lagi…….

Pure Punk, Not Just For Fun……..