Archive for December, 2008

Review: Kedua Kalinya Saya Menonton Konser Koil Di Alun-Alun Sragen 11-12-2008.

Saturday, December 20th, 2008
Aris Setyawan Rockin Koil Show

Aris Setyawan Rockin Koil Show

Waw, menyenangkan rasanya dapat kesempatan kedua untuk bisa menghadiri konser Band Industrial Rock ini. Setelah beberapa waktu yang lalu sempat melihat penampilan gahar mereka di Parkir Stadiun Manahan Solo. Sebenarnya jarak antara Sragen dan Karanganyar cukup jauh, tapi demi Koil ya Saya dan kawan Saya Hary Goodboy bela-belain berangkat. Kapan lagi bisa nonton Koil? Kalau nunggu ada EO yang manggil mereka Main ke Karanganyar kayaknya enggak deh. Enggak ada maksudnya. Koil main di Sragen dalam rangka tour yang digelar oleh salah satu produsen Rokok yang asalnya dari Amrik. Sebelum kawan-kawan Koil menghajar Massa dengan Distorsi maksimum. Show didahului penampilan band-band lokal. Saya agak lupa list band yang main, karena ketika Saya datang sudah agak terlambat, tepat Saya tiba di Stage, Down For Life sedang memainkan hits-hits mereka. Saya sempat berpikir setelah Down For Life pasti Koil langsung main. Tapi ternyata dan tidak dinyana. Eng ing eng, ada satu band lagi yang main. Huffh, I’m so excited, I can’t wait anymore. Tapi ya mau gimana lagi. Band yang main ini bernama The Shine, dan tau musik yang mereka bawakan? Campur-campur alias Top40. yang cukup membuat interest tentu saja dua penyanyi ceweknya yang cara berpakaiannya bener-bener beuuuhhh. Bikin melek. Super ketat semua, satunya pake hotpants superpendek, satunya rok mini yang kayak bukan rok. (eh mau review Koil apah Rok mini cewek sih?) ok, disudahi Saja rok mininya, kembali ke Koil. Setelah The Shine main yang ditunggu datang juga. Leon naik pertama kali, lalu Ibrahim Nasution a.k.a Imo a.k.a Bobby, dilanjut Adam Vladvamp, Donny. Sang pengkhotbah Otong Verdijantoro naik panggung paling belakang. Koil membawakan lagu-lagu mereka dari album Blacklight Shines On, juga dari album lama Megaloblast. Hiburan Ringan menyerbu pertama Kali. Dan dilanjut dengan lagu-lagu lainnya. Nyanyikan Lagu Perang, Sistem Kepemilikan, Aku Lupa Aku Luka, Dosa, Ajaran Moral Sesaat (Sori lupa Songlistnya) ditutup dengan Kenyataan Dalam Dunia Fantasi. Entah kenapa di Konser kedua yang Saya tonton ini rasanya kurang klimaks. Tak seperti konser pertama di Gor Manahan yang Saya tonton dulu. Mungkin karena Songlist sekarang terasa agak kurang, Semoga Kau Sembuh, Lagu Hujan, Matahari, Mendekati Surga tak masuk Songlist. Juga yang membuat tidak klimaks menurut Saya adalah Soundsystemnya yang kurang menggigit. Dulu di Gor Manahan Soundnya dapet banget. Sementara di Sragen ini agak kurang memadai Soundnya. Ada beberapa kejadian menarik di Konser ini yang Saya alami:

1.Photografer official Koil (Saya kurang tahu namanya) sedang mengambil gambar didepan Stage, kebetulan Saya dan teman Saya Hary Goodboy berada dibarisan paling depan. Saya tunjukkan CD Blacklight Shines On yang tadinya niat Saya mau mintakan tanda tangan Koil diatasnya. Terus Saya bilang “Mas Foto Dong” dan difotolah Saya dan teman Saya Hary. Saya bilang kepadanya “tolong diupload ke Multiply Koil ya Mas! Nanti Saya Donlot disana. Dia hanya mengangguk Saja, yah semoga saja diupload bener.

2.Setelah Imo sang pencabik gitar selesai CheckSound. Saya panggil namanya Imoooooo….sembari menunjukkan CD Blacklight Saya. (Hahaha sebuah ID sebagai penanda bahwa Saya dan Teman Saya Hary Satu-satunya penyuka Koil Disana. Dibarisan belakang berkibar banner-banner Slank, Rasta, Oi, Dll. Karena ga ada banner Koil maka Jadilah CD Blacklight Saya angkat tinggi-tinggi) eh Akhirnya dia ngelihatin Saya. Senyum deh. Dan belakangan Imo tahu aja kalo Saya kehausan, maka Dilemparkannya sebotol Air mineral ke Saya. Minum Blaaahhhh…..

3.seperti dikonser Gor Manahan Kemarin Dulu, untuk kesekian kalinya Otong Mengucapkan: Yah nasib jadi Band ga terkenal seperti Koil. Jadi kalian mungkin ga tau lagu-lagu kami.

4.Beberapa kali Otong menyindir Artis-Artis selebritis (kalo dulu ga deh, sekarang Sindir-Sindir ya) mulai dari Miss Band, Band Sing Wis Mesti Aku Wong Jowo, Ipan GunWanWan, RubBand On Shou, Afghanistan dan beberapa lagi kena Sindir Otong.

5.entah tulus dari lubuk hati yang paling dalam ataukah Cuma Sindiran Satire belaka. Otong Bilang ” buat Soundsystem Ken dedes, Sukses mas buat Bisnisnya…” apa kecewa karena Soundnya yang jelek ya?

6.yang ini paten Saya baru ngelihat sekali. Nampaknya Otong sedang suka dengan hobi baru ini. Seolah Beliau ini kerasukan Arwah Kurt Cobain kemudian membanting gitar merah yang sedang dimainkannya. Dahsyaaaattt….

7.banyak sekali CD dan DVD yang dilemparkan ke penonton. Dan Saya ga bisa dapat Satupun, Lucky Me…

8.ini yang paling hebat dan menarik dari semua kejadian diatas. Ketika barisan belakang mulai rame-rame, Saya menengok kebelakang. Dan apa yang terjadi, orang-orang tolol dan arogan yang sedang mabok Ciu itu sedang berantem, saling hajar, tonjok-tonjokan. Aparat kepolisian yang berjaga didepan Stage langsung melompat mengejar para perusuh itu. Hary yang belum sadar situasi langsung Saya tarik ketempat aman sebelum dia keinjak para Polisi yang melompat mengejar perusuh itu. Hey, katanya hebat dan menarik. Mana? Ini dia yang hebat, ketika pak polisi melompat mengejar perusuh itu. Kaki Saya terinjak Kaki salah satu dari mereka. Padahal pak Polisi pakai sepatu Boot yang tebel itu. Aduuuuhhhh Sakiiittttt. Hebat kan?

9.Otong Verdijantoro sepertinya sangat berterimakasih kepada Ahmad Dhani terkait beredarnya Lagu Kenyataan Dalam Dunia Fantasi Feat The Rock dibawah naungan Republik Cinta Management. Hal ini dituturkannya didepan keramaian.

Sebuah hiburan yang lumayan. Menonton penampilan band Industrial Rock itu di alun-alun kota Sragen. Next time datang lagi ya, Sukur-sukur kalo di Karanganyar aja, jadi Saya ga harus pulang malam-malam naik Sepeda motor dijalan lintas Sragen Karanganyar yang Sepi dan gelap.

Viva Koil….

ARIS SETYAWAN

Karanganyar 111208 (For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Negeri Reality Show

Saturday, December 20th, 2008

“…Ini kenapa rame-rame begini ada banyak kamera segala…???

Mungkin kalimat diatas sering kita dengar belakangan ini di stasiun2 teve negeri kita tercinta ini. Ya, kalimat favorit yang sering diucapkan seseorang yang muncul di program Reality Show. Sodara-sodara, ditengah masyarakat yang semakin bergantung pada televisi sekarang ini. Maka stasiun teve harus makin pintar dalam meraih simpati pemirsanya, dengan cara membuat program2 yang sekiranya bakal laris manis tanjung kimpul. Dan celakanya belakangan tv kita semakin ga kreatif, mengeluarkan jurus aman ‘Ikut-ikutan’ membuat program tv lain yang laris. Budaya plagiat dengan tanpa malu mereka terapkan di negeri ini. Setelah beberapa waktu dulu trendnya adalah membuat sinetron Religi, Kuis, Ajang pencarian bakat, Acara Tangga lagu dengan pengisi acaranya Artis2 dan Band2 Top Ibukota yang bahkan performance mereka Lypsync serta Minus One. Membuat sinetron dengan judulnya nama-nama orang keren seperti Melati, Mawar, Marvel, Spiderman, Intan, Permata, Maia, Ahmad, Bunga, Desa, Indah, Sekali, Dll, Dst, Dsb. (Dan kenapa harus pake nama2 keren? Kenapa ga pake nama Bejo, Mimin, Maman, Momon, Dll, Dst, Dsb)

Sekarang yang lagi Up2date untuk ditiru adalah: Ladies and gentlement, let me introduce nowadays Indonesian people Fav Tv Programme; Reality Show.

Entah buat Anda yang sering menyimak atau bahkan ga mau tahu sama sekali. Tv kita dipenuhi Reality show. Dan tema dari acara2 ini sangat beragam. Mulai dari yang isinya nyari orang hilang, menjebak Playboy kesrimpet kabel, Memata-matai (Wah Spionase di tv. Kereeeeennnn), ‘Balikan’ dengan mantan pacar, Backstreet2an, ketemu temen Chatting, menjebak selingkuhan. Dan banyaaaaakkkk lagi.

Terjemahan harfiah “Reality Show” dalam bahasa Indonesia berarti “Acara yang berdasarkan Realita atau Kenyataan” heeeemmm berarti kita bisa dengan kuat berasumsi inilah kondisi realita Negeri ini: banyak orang hilang, banyak Playboy berkeliaran, Banyak Mata-mata dan spionase baik yang benar2 dari pihak Intelijen suatu negara atau Cuma Mata2 Bohongan, banyak Orang Rujuk, banyak Penggemar Backstreet Boys (Nah Loh…?? Ralat. Banyak yang punya hubungan cinta tanpa disetujui), banyak orang yang tadinya Cuma chatting lalu kopi darat, dan inilah yang paling hebat. Di negeri ini banyak orang Selingkuh.

Lalu kenapa hanya semua problema itu saja yang diangkat kepermukaan? Kan masih banyak realita lain yang bisa dijadikan tema? Kisah Cinta Kaum Kusam, kehidupan para termarjinalkan, uang makan kuli bangunan, Pencopet patah hati, Korupsi berjamaah. Apalah. Mungkin ya itu tadi ya, namanya juga Reality Show, jadi yang diangkat ya Realita2 yang paling Penting Saja. Ok, beberapa Reality show memang mempunyai tema yang bagus. Yang isinya mencari orang hilang, cewek cakep tinggal bareng orang miskin, renovasi rumah. Tapi beberapa Reality show yang ada sekarang terasa sangat mengganggu. Ada yang menganggu privasi orang lain, bahkan semuanya nyaris sama, terutama yang temanya perebutan pacar atau kisah tentang seorang yang disakiti kekasihnya. Pada akhir acara2 itu kini harus diakhiri dengan berantem, jotos, tonjok, pukul, hantam, ngumpat, nama2 binatang disebut. Oh My God, apakah memperebutkan lawan jenis itu begitu penting sampai harus dibuktikan secara konfrontasi dengan kekerasan didepan publik seperti itu? Seolah-olah mereka tengah membela ideologi negara atau sebuah kepercayaan religius. Kalaupun memang penting kenapa juga harus dipublikasikan di tv. Sementara para pembuat acara ketika ditanya kenapa harus menampilkan adegan saat subyek berantem dengan enteng menjawab: namanya juga Reality Show. Semua mengalir apa adanya, direkam, editing minim, tanpa Naskah. Would You Believe it? Apa benar sebuah reality Show tanpa naskah? Apa benar orang2 didalamnya mengalami kejadian sebenarnya tanpa Akting? Lalu kenapa semua terasa seperti sadar kamera? Sadar bahwa mereka tengah disorot?

Beberapa acara juga sudah melenceng dari tema awalnya dan mencampuri urusan para client atau pelaku acaranya terlalu jauh. Acara yang isinya menjebak Playboy. Mereka bertugas menjebak seorang playboy agar ketahuan ke-playboy-annya didepan sang pelapor. Dan harusnya urusan mereka hanyalah menjebak sang playboy, ketika tugasnya sudah selesai dan playboy sudah ketahuan maka mereka harus lepas tangan, karena masalah berikutnya adalah privasi antara sang pelapor dan playboy. Biarlah mereka menyelesaikan sendiri perkara mereka. Namun kenyataannya para host Reality show tersebut kebablasan dengan ikut menghajar playboy, menghakiminya seolah-olah mereka mempunyai kepentingan didalamnya.

Apapun isi acara tersebut, Saya hanya bisa menyimpulkan bahwa negeri ini sedang senang bermimpi. Maka wajar jika para produsen reality show ogah membuat acara tentang realita yang sebenarnya di masyarakat. Dan angkatlah ke permukaan realita yang mereka anggap penting. Sesuatu yang menurut Saya terkadang Absurd, diluar nalar, terlalu berlebihan dan ga penting. Untuk apa membahas cinta monyet atau cinta lokasi dan selingkuh ketika perut sedang lapar karena tak mampu menebus sekilo beras yang harganya sudah terlampau mahal? Untuk apa meributkan perebutan kekasih atau menegaskan status sebuah hubungan ketika kepala sedang pening memikirkan, bagaimana biar bisa bayar tunggakan kontrakan yang 3 bulan tak terbayar?

“….Woi, An*i*g Lo, Ngen**t, awas lo ye tunggu pembalasan Gue…besok2 ye gue hajar balik Lo…”

Sebuah kalimat yang lagi2 ada di sebuah reality show, nampaknya sang tokoh didalamnya sedang merencanakan sebuah Vendetta. Balas dendam karena tidak terima, bisa jadi ga terima diperlakukan layaknya seorang koruptor dengan disorot kamera. Atau bisa jadi yang lain. Selamat datang di Negeri Reality Show.

ARIS SETYAWAN

Karanganyar 111208

(For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Grunge Resurrection

Saturday, December 20th, 2008

Bayangkan ketika sekarang ini anak-anak Abg, Pelajar-pelajar Sma, juga anak-anak gaul lainnya yang biasanya berstyle Emo dengan rambut poni, celana ketat dan kaos MCR nya malih rupa berdandan ala Grunge. Mengenakan kemeja flanel ditambah jeans robek, rambut panjang acak-acakan, sepatu belel yang ga dicuci selama 3 bulan. Ketika itu terjadi mungkin kita sudah tiba dimasa kebangkitan Grunge.

Kenapa kebangkitan? Memang Grunge sedang mati ya? Kurang lebih bisa disebut demikian. Tapi lebih tepatnya genre yang sempat besar di awal tahun 90-an ini bukan mati. Hanya saja kurang muncul dipermukaan. Mari kita flashback ke masa lampau. Ketika grunge dengan hebatnya menjajah ranah musik Internasional. Saya tidak akan menyebutkan awal kemunculan Genre ini yang dimulai dari tahun 80-an oleh Green River, Mudhoney dan kawan-kawan. Untuk anda yangmungkin masih penasaran atau belum tahu sejarah panjang aliran musik ini silakan cari sendiri saja di Internet. Saya hanya mengajak flashback ke masa kejayaannya, era awal 90-an. Dimulai dengan meledaknya Album fenomenal Nirvana yakni Nevermind. Setelah sebelumnya tak ada satupun band Alternative atau secara spesifiknya Grunge yang bisa masuk jalur mainstream, Nevermind membawa sebuah formula tepat yang akhirnya bisa membuatnya masuk mainstream. Setelah penjualan Nevermind meledak, menyusul band-band grunge lain dikontrak label besar. Sebut saja Pearl Jam, Soundgarden, Alice In Chains. Band-band yang tadinya dipandang sebelah mata tiba-tiba bisa menjual jutaan copy dan menguasai tangga lagu. Grunge pun menjadi sebuah subkulture baru yang menguasai dunia menggantikan era metal dan glamrock. Mulailah anak-anak muda dipenjuru dunia mengikuti gaya idola-idola mereka mengenakan Style ala grunge.

Kenapa grunge begitu mudah diterima kala itu? Kenapa genre ini akhirnya baru bisa masuk mainstream pada awal tahun 90-an? Padahal sebenarnya bukankah genre ini sudah muncul dan tercipta cukup lama sekitar tahun 80-an ketika Mark Arm dari band Green River mengenalkannya kepada publik Seattle. Pada tahun itu pula band-band yang menggaungkan grunge semakin menjamur di kota asalnya Seattle. Tapi pada tahun itu pula grunge tak pernah bisa masuk mainstream karena kalah pamor dengan Metal dan glamrock yang sedang digandrungi saat itu. Menurut asumsi Saya grunge bisa diterima pada awal 90-an karena itu adalah momen yang tepat. Kondisi dunia yang sedang kacau balau, banyak orang frustasi, perang Teluk, Resesi Ekonomi, penyalahgunaan Obat terlarang yang makin merajalela. Dunia yang sedang depresi butuh sebuah wadah penyaluran untuk melepaskan semua masalah itu. Dan Grunge dianggap sebagai sebuah lansekap yang tepat. Sesuai dengan imej yang melekat pada grunge: depresi, frustasi, alienasi, drugs addict dan dunia berkata ini dia Sebuah lansekap buat melepas semua masalahku.

Secepat kemunculannya, secepat itulah pula kemundurannya. Perlahan namun pasti genre ini mulai memudar hilang dari peredaran. Pergeseran selera musik dituding sebagai penyebabnya. Budaya pop memang selalu bergerak dari satu ke yang lain dan tibalah saatnya bagi grunge untuk menghilang. Selain pergeseran selera musik ditambah lagi berbagai perpecahan serta bubarnya band-band yang mengusung alirannya. Tewasnya Kurt Cobain frontman Nirvana karena bunuh diri, Juga Layne Staley vokalis Alice In Chains yang meninggal karena overdosis penggunaan heroin, bubarnya Soundgarden. Dan banyak lagi band-band lain menyusul pecah atau bubar mempercepat pudarnya pengaruh grunge di kancah musik. Setelah berhasil menguasai dunia selama beberapa tahun maka hilanglah Seattle sound dari peredaran. Menyisakan keturunannya yang mentasbihkan diri dengan nama Post Grunge.

Sebenarnya setelah era 90-an itu grunge tidak sepenuhnya mati. Tentu saja masih banyak orang yang suka dan setia mendengarkan serta menganut Style grunge ini. Diseluruh dunia, khususnya di Indonesia masih banyak band-band yang mengaku memainkan musik distorsi keras ini. Hanya saja mungkin yang menjadi masalah adalah kurangnya naik ke permukaan. Band-band beraliran grunge ini kebanyakan hanya bisa bermain musik dan mengedarkan rekaman mereka di kalangan komunitas. Tak bisa masuk mainstream persis seperti halnya di awal kemunculan grunge tahun 80-an lalu. Band Grunge Indonesia yang bisa masuk mainstream atau major label bisa dihitung. Navicula, Cupumanik, Plastik di beberapa dekade lalu. Padahal banyak band-band bagus di negeri ini, hanya saja kendalanya mungkin kurang adanya wadah yang benar-benar bisa menjadi tempat berekspresi band grunge. Beberapa band memang bisa membentuk komunitas-komunitas yang cukup maju, membuat berbagai gigs-gigs dan event untuk menyalurkan nafsu bermusik, mengedarkan zine-zine baik yang dicetak maupun memanfaatkan media Blog, Fs, forum dan milis-milis. Tapi semuanya masih berkutat di ranah komunitas sendiri. Menjadi konsumsi komunitas. Sementara untuk mengharap ada seorang Good Samaritan dari pihak mainstream yang akan mengangkat Grunge ke permukaan ditengah kondisi industri musik Indonesia yang seperti ini sepertinya juga tidak mungkin. Jadi apakah akan ada wadah-wadah yang bisa membantu lagi kebangkitan grunge secara lebih baik?

Tapi untungnya masih ada juga pejuang-pejuang yang dengan penuh semangat membuat wadah itu. Sebuah tempat dimana para musisi pengusung grunge bisa saling bertemu, mempublikasikan musik yang mereka buat serta saling bertukar pikiran. Sebut saja www.totalfeedback.com yang sudah beberapa tahun tetap online sebagai Webzine serta direktori Grunge Indonesia. Disana kita bisa mendapatkan berita terbaru tentang Grunge, review band-band keren, membaca Artikel-artikel yang ditulis para Grungies, mendownload lagu-lagu yang disediakan, serta mengiklankan band kita. Terima kasih kepada Admin Totalfeedback yang masih bertahan mengelola situs itu walau dengan dana operasional pribadi. Selain Totalfeedback belakangan Situs yang muncul untuk dijadikan media bertukar pikiran para Grungies adalah www.naviculamusic.com

Web yang dikelola band asal Bali Navicula ini baru saja launching, dan rencananya juga akan dijadikan sebuah wadah bertemu para grungies. Terima kasih juga kepada Navicula yang mau membuat situs tersebut. Diharapkan dengan hadirnya www.naviculamusic.com serta tetap eksisnya www.totalfeedback.com bisa benar-benar menjadi media penyebaran grunge yang lebih baik. Sehingga Genre ini bisa terpublikasikan secara lebih luas dan akhirnya muncul kembali kepermukaan, kemudian kembali menjadi Genre yang menjajah peta musik Dunia dan Indonesia pada khususnya. Mari kita berharap ini akan menjadi kebangkitan Grunge.

Grunge Resurrection…!!!

Aris Setyawan

Karanganyar 12-12-2008

(For More Sh*t Please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Grunge, Harus Suramkah?

Saturday, December 20th, 2008

Saya pernah ikut sebuah milis yang bernama I-rocks. Milis ini diikuti banyak kalangan mulai dari para pekerja kantoran, wartawan musik, juga beberapa musisi terkenal negeri ini ikut didalamnya. Pokoknya yang ikut di milis ini ya orang-orang yang suka musik Rock. Apa yang menjadi tema didalam milis ini? Apapun yang berbau Rock dan turunannya. Milis ini terbilang sangat ramai aktivitasnya, setiap hari selalu ada thread baru yang dimunculkan entah membahas sebuah Current affairs ataupun membahas sebuah Album dari band rock kenamaan. Beberapa waktu setelah Saya gabung di I-Rocks Saya belum berani membuat Thread sendiri. Saya hanya membaca thread-thread yang ada dan menyimak apa-apa yang sedang didiskusikan disana. Dan memang benar apa-apa yang dibahas menyangkut rock dan turunannya mulai dari Metal, Progresive rock, heavy metal, Industrial Rock, Alternative, dll, dst, dsb. Tapi tak ada satupun yang membahas Grunge, akhirnya Saya beranikan membuat sebuah Thread dengan judul “Ada Yang Suka Grunge Ga Disini?” isi Thread hanya Saya isi singkat saja sebab inti thread ini sudah terjelaskan hanya pada judul. Beberapa waktu kemudian berbagai jawaban muncul dari para Anggota I-Rocks. Dan ini beberapa diantaranya:

“Saya dulu sempat Suka pas masih Sma, kalo sekarang kayaknya ga deh. Bosen…”

“oh ya Grunge ya, gimana ya. Kalo Cuma lewat dengar beberapa lagu sih ok aja. Tapi kalo disuruh suka banget kayaknya enggak deh. Soalnya Grunge ngebosenin banget tuh musiknya cuman gitu-gitu ajah…”

“Gw Suka Alice In Chains, tapi ga setuju kalo Do’i dikotakkan ke Grunge. Gw lebih suka Alice disebut Hardrock. “

“…Grunge…grunge…grunge…Suara motor 2 tak distarter….”

“Say Yes To Ed PJ, Say No To Cobain Nirvana…”

“Gw ikut nimbrung aja ya bro, Queen Of The Stone Age ntuh masuk Grunge ndak Seh?”

“Gw ga suka Grunge, Soalnya isinya Suram melulu…..”

Mengkutip komentar yang terakhir, Grunge isinya Suram melulu. Haha, mungkin memang sudah menjadi takdir bahwa Genre ini harus menegaskan sisi-sisi gelap. Depresi, frustasi, Alienasi, Kecanduan Obat terlarang, Suicide, Patah Hati, dan masih banyak lagi hal gelap lainnya. Apa karena Genre ini berasal dari kota Seattle yang udaranya selalu dingin, Kota yang selalu gelap tertutup mendung dan hujan. Maka musik yang tercipta disanapun gelap dan suram juga? Sesuram nasib para penduduknya yang notabene kebanyakan mempunyai kehidupan yang suram.

Yang tetap menjadi sebuah pertanyaan adalah Harus Selalu Suramkah Grunge? Bagaimana kalo tema-tema yang dibawakan musik Grunge dirubah saja membahas sesuatu yang lebih menyenangkan? Selingkuh mungkin, bukankah selingkuh itu menyenangkan? Buktinya belakangan semua band-band Indonesia lagi demam membuat lagu bertema selingkuh atau menyeleweng dari pasangan. Apakah jika sebuah band Grunge membuat lagu bertema diluar kesuraman lantas mereka dicap ‘Udah ga Grunge lagi karena udah ga suram’ lalu apa kalo sebuah band memutuskan membuat lagu bertema ceria dianggap sudah berkhianat dari Mazhab grunge? Tentu semuanya kembali ke diri kita sendiri. Bagi para penyuka musik Grunge, bisa ga kita menerima sebuah band yang keluar dari pakem Suram dan melangkah ke sisi ceria bahagia?

Aris Setyawan

Karanganyar 12-12-2008

(For More Sh*t Please Visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Impious Punk: Genre Besar Yang Kehilangan Idealisme & Filosofi

Saturday, December 20th, 2008

Gara2 nulis kayak gini maybe gw dah bikin marah Punkers2 seantero Nusantara. tapi gw merasa perlu nulis gini setelah kejadian yg gw alamin belakangan ini. koq Punk jaman sekarang dah kehilangan Arti ya? lha cita2 sid Vicious & Jonny Rotten Sex Pistols jd ga jelas donk, pasalnya Punk memang lepas dari keteraturan, bebas dari pengekangan, anti kemapanan. tapi Punk sejati memegang teguh idealisme, punk sejati tau ujung pangkal luar dalam kenapa mereka milih jadi seorang Punkers. sangat berlawanan dengan Impious Punk yang gw liat kemaren……

pas gw maen di satu Gigs Gitulah, Para Punkers2 (zaman sekarang) ini menunjukan sifat liarnya dengan moshing2 ga keruan, teriak2 ga jelas, dan ngoceh2 marah2 gitu. hal ini bikin gw bertanya dalam hati: mereka sebenarnya ngerti ga seh makna lgu yang sedang gw bawain? mereka tu moshing2 bergembira ria karena seneng & meresapi lagu gw, apa cuma moshing karena pengaruh minum cap tikus doank. selidik2 selidk dan hal ini yg buat gw jd miris, ternyata memang benar, kebanyakan dari mereka Moshing karena dibawah pengaruh Alkohol tingkat tinggi (Halah, Peterpan Kaleee Khayalan Tingkat Tinggi)

mereka2 ini menganggap Punk Harus Kasar, kotor, ga mandi (emang Iya seh) tapi Filosofinya kan dah Laen Yah…??? Punkers memang jarang mandi, agak kasar, dll tapi dengan Idealisme Kuat untuk membuktikan bahwa mereka bisa DIY, ga tergantung orang laen, dan untuk melawan penindasan. lha Punkers yg gw jumpa kemaren filosofinya gini: Punk harus kasar, kotor, mabok, moshing2 pas denger lagu keras (lagu keras? lagunya Radja juga keras kaleeee), malak2 anak2 sekolah. look…!! Tu sifat Preman yah? bukan sifat Punk….

gara2 kearoganan mereka, di daerah gw punk jadi di cap sampah n jelek. tiap Gigs mencantumkan “No Punk No Underground”

Gw jadi berharap banget deh, Filosofi Punk yang dah dirancang Sid Vicious Dkk dr Sex Pistols bisa kembali lagi…….

Pure Punk, Not Just For Fun……..